Minyak Tertekan di Tengah Tanda-tanda Berlimpahnya Pasokan Global
Wednesday, May 16, 2018       15:07 WIB

Ipotnews - Harga minyak melemah, Rabu petang, terbebani pasokan yang berlimpah, meski OPEC melakukan pembatasan output dan sanksi Amerika mengancam salah satu eksportir utama, Iran.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, berada di posisi USD78,22 per barel pada pukul 06.44 GMT, turun 21 sen, atau 0,3 persen, dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Rabu (16/5).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 28 sen atau sekitar 0,4 persen menjadi USD71,03 per barel.
Meski melemah, kedua patokan minyak tersebut tetap dekat dengan level tertinggi November 2014, masing-masing USD79,47 dan USD71,92 per barel, yang dicapai hari sebelumnya.
Namun ada tanda-tanda di pasar minyak mentah fisik yang dapat memberikan jeda bagi investor keuangan.
Ada pula tanda-tanda produksi minyak akan meningkat, terutama di perusahaan besar seperti ExxonMobil, Royal Dutch Shell, Chevron, BP, dan Total.
"Produksi agregat--baik aktual maupun yang diproyeksikan--sedang tumbuh untuk perusahaan besar tersebut," tutur S&P Global Ratings dalam laporan yang dirilis Selasa.
Harga kargo minyak mentah kargo berada pada diskon paling tinggi terhadap harga minyak berjangka dalam beberapa tahun, di tengah upaya penjual untuk menemukan pembeli bagi kargo Afrika Barat, Rusia dan Kazakhstan, sementara jaringan pipa yang mengalami bottleneck menahan pasokan di Texas barat dan Kanada.
Hambatan di Amerika Utara kemungkinan berkontribusi pada kenaikan 4,9 juta barel dalam persediaan minyak mentah Amerika, menjadi 435,6 juta barel, seperti dilaporkan American Petroleum Institute, Selasa.
"Data inventaris API di Amerika cocok dengan...pola topping--atau setidaknya jeda yang layak--bagi harga minyak saat ini," ungkap Greg McKenna, analis broker berjangka AxiTrader.
Data penyimpanan bahan bakar resmi Amerika akan dirilis Badan Informasi Energi (EIA), Rabu waktu setempat atau Kamis (17/5) pagi WIB.
"Kami memperkirakan laporan EIA akan menyajikan hasil yang bearish di tengah angka rig dan tingkat produksi yang lebih tinggi di Amerika," papar pialang yang berbasis di Singapura, Phillip Futures.
Walau terjadi penurunan dan beberapa indikator menyiratkan minyak keuangan telah melampaui minyak fisik, kondisi pasar minyak mentah secara keseluruhan telah mengetat sejak 2017 ketika Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) mulai menahan pasokan guna mendongkrak harga.
Dengan sanksi baru Amerika terhadap Iran, dan permintaan yang kuat, para analis mengatakan pasar minyak mentah kemungkinan tetap ketat untuk sebagian besar tahun ini.
Harga minyak yang lebih kuat juga mempengaruhi pasar lainnya. "Kenaikan harga minyak membawa risiko kenaikan harga ke semua komoditas," ujar Morgan Stanley, pekan ini. (ef)

Sumber : Admin