Neraca Perdagangan Maret Surplus, Ekonom Ragukan Keberlanjutannya
Monday, April 15, 2019       15:13 WIB

Ipotnews - Indonesia di luar dugaan mencatat surplus perdagangan untuk bulan kedua berturut-turut, pada Maret, mendukung pandangan bank sentral tentang current account deficit yang menyempit.
Meski begitu, para ekonom memperingatkan defisit perdagangan dapat kembali terjadi setelah pemilihan presiden (pilpres), 17 April.
Indonesia mencatat surplus USD540 juta pada Maret, terbesar sejak Juni 2018 dan dibandingkan proyeksi defisit USD180 juta dalam jajak pendapat Reuters. Angka ini mengikuti surplus mengejutkan sebesar USD330 juta pada Februari, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Senin (15/4).
Rekor defisit perdagangan tahun lalu sebesar USD8,5 miliar digunakan oleh kandidat presiden Prabowo Subianto untuk menyerang Presiden Joko Widodo, dengan mengatakan petahana telah mengelola ekonomi dengan buruk.
Jokowi mengatakan upaya pemerintahannya untuk membalikkan defisit, termasuk menaikkan tarif untuk menghentikan impor dan melonggarkan aturan guna mendukung ekspor, berhasil mempersempit kesenjangan perdagangan pada kuartal pertama.
Rakyat Indonesia akan memberikan suaranya, Rabu, untuk memutuskan siapa yang akan memimpin ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu dalam lima tahun ke depan.
Risiko defisit neraca perdagangan kembali setelah pemilu pekan ini adalah "sangat mungkin", kata Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Dia berpendapat impor bahan bangunan yang digunakan dalam proyek infrastruktur Jokowi, yang dihentikan sejak tahun lalu, dapat dilanjutkan setelah pemilu.
"Jika kandidat nomor dua menang, dia berjanji untuk memotong harga bahan pokok dalam 100 hari pertamanya, jadi dia mungkin harus mengimpor bahan makanan juga," kata Bhima, merujuk pada Prabowo.
Wisnu Wardana, ekonom Bank Danamon, mengatakan impor terkait investasi tampaknya terhenti pada kuartal pertama dan keberlanjutan surplus perdagangan akan tergantung pada apakah investasi meningkat pasca pemilu.
Impor turun 6,76 persen dari tahun sebelumnya menjadi USD13,49 miliar pada Maret, menandai kontraksi dalam bulan ketiga berturut-turut, dipimpin oleh penurunan impor bahan baku. Jajak pendapat Reuters memperkirakan penurunan 3,76 persen.
Sementara itu, ekspor turun tajam, di posisi 10,01 persen pada tingkat tahunan, menjadi USD14,03 miliar, meskipun tidak sebanyak penurunan 11,82 persen yang diperkirakan dalam jajak pendapat.
Analis mengatakan perbaikan defisit perdagangan dan neraca transaksi berjalan adalah faktor penentu bagi Bank Indonesia (BI) untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter, sekarang inflasi stabil dan Federal Reserve mungkin tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
BI tahun lalu menaikkan suku bunga dengan total 175 basis poin sebagai respons terhadap melemahnya rupiah dan capital outflow yang sebagian didorong oleh kenaikan suku bunga AS dan defisit perdagangan serta neraca transaksi berjalan yang besar.
Data terbaru menunjukkan kesenjangan current account 2019 saat ini akan menyempit menjadi 2,78 persen dari PDB dari 2,98 persen tahun lalu, kata ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro.
BI juga dapat menunggu perubahan arah ekonomi dari hasil pemilu sebelum menurunkan suku bunga, kata Bhima. Rapat Dewan Gubernur bank sentral berikutnya dijadwalkan 24-25 April. (ef)

Sumber : Admin