Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 23 Januari 2026: Menguat Pesat
Friday, January 23, 2026       09:40 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pesat pada Jumat (23/1/2026). Penguatan itu didorong meredanya tensi geopolitik global dan melemahnya indeks dolar.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.07 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini menguat 50 poin (0,3%) ke level Rp 16.846 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,02% ke level 98,34.
Sedangkan pada perdagangan Kamis (21/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup ditutup menguat 40 poin di level Rp 16.896.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar akan fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 16.860 - 16.900.
Ibrahim mengungkapkan, prospek rupiah yang cerah didukung oleh sentimen ketegangan perdagangan yang mereda, setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancaman tarif dagang terhadap Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland.
Trump juga menyebut, penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan dalam upayanya mengambil alih Greenland. Trump mengatakan jika ia tidak mendapatkan kesepakatan terkait wilayah tersebut, dirinya akan mempertimbangkan tanggapan Eropa terhadap tuntutannya.
Fokus Pasar
Rupiah juga diproyeksi kembali menguat di tengah fokus pasar yang tertuju pada rilis angka Produk Domestik Bruto (PDB) AS, Klaim Pengangguran Awal, dan ukuran inflasi pilihan The Fed, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE) AS.
Dari sisi internal, penguatan rupiah didukung sentimen optimisme pasar bahwa pemerintah mampu mengatasi praktik under invoicing impor dan ekspor, yang pada akhirnya dapat menutup defisit anggaran negara.
Ibrahim mengatakan, jika saja mampu menggaet 30% dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah mampu menutup defisit anggaran negara. Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara.
"Hal ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor," papar Ibrahim.

Sumber : investor.id