OPEC Tunda Keputusan Soal Pemangkasan Produksi, Minyak Jeblok
Friday, December 07, 2018       05:07 WIB

Ipotnews - Harga minyak anjlok sekitar tiga persen, Kamis, setelah OPEC dilaporkan setuju untuk memangkas produksi, tetapi mengakhiri pertemuan tanpa keputusan tentang seberapa banyak pemotongan yang akan dilakukan kartel tersebut.
Pada prinsipnya OPEC setuju untuk memangkas produksi selama pertemuan di kantor pusatnya, di Wina, Austria, Kamis, menurut dua narasumber kepada Reuters. Namun, kartel itu menunda keputusan mengenai kuota tertentu sampai berkonsultasi dengan Rusia, Jumat.
OPEC mulai membatasi pasokan dalam kemitraan dengan Rusia dan beberapa negara lain, tahun lalu, untuk mengakhiri kejatuhan harga minyak. Namun, Moskow belum menentukan berapa banyak akan memangkas produksi selama putaran baru tersebut yang saat ini sedang dipertimbangkan.
"Ini jelas merupakan kekecewaan besar bagi pasar," kata John Kilduff, pendiri partner hedge fund energi Again Capital. "Ini tentu saja memberikan kesan kekacauan dalam kartel itu, dan pastinya lebih kepada perpecahan ketimbang persatuan."
Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot USD1,5 menjadi USD60,06 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah jatuh serendahnya ke posisi USD58,36 per barel, demikian laporan CNBC dan Xinhua, di New York, Kamis (6/12) atau Jumat (7/12) dini hari WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), mengakhiri sesi Kamis dengan penurunan USD1,40 atau sekitar 2,7 persen, menjadi USD51,49 per barel, memantul dari USD50,08.
Harga minyak secara singkat memangkas kerugian setelah data pemerintah menunjukkan stok minyak mentah Amerika turun 7,3 juta barel dalam pekan hingga 30 November.
Kedua patokan tersebut anjlok lebih dari 30 persen selama dua bulan terakhir. Harga minyak terpukul oleh kekhawatiran pasokan akan melampaui permintaan tahun depan, pelemahan di pasar global dan technical trading yang memperpanjang aksi jual.
Produsen terbesar OPEC , Arab Saudi, memimpin seruan bagi kartel itu untuk memangkas output, di tengah melonjaknya pasokan dan kekhawatiran perlambatan ekonomi akan mengikis permintaan bahan bakar.
Produsen minyak tampaknya bersatu mengenai rencana untuk memangkas 1,3 juta barel per hari, awal pekan ini. Namun, Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan pemotongan 1 juta bph sudah cukup signifikan.
Falih mengatakan, pemotongan produksi 1,3 juta bph adalah "berlebihan" karena keputusan Alberta pekan ini untuk memangkas 325.000 bph guna menguras stok minyak mentah di provinsi Kanada itu. Falih juga mencatat produksi dari beberapa produsen OPEC menurun.
"Jumlah yang kita butuhkan akan kurang dari 1,3 juta. Apakah itu satu juta? Apakah sedikit kurang, sedikit lebih? Kami masih punya hari ini dan besok untuk menentukan angka-angka itu."
Beberapa analis energi mempertanyakan apakah pengurangan 1 juta bph cukup untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan pada 2019, terutama mengingat sejumlah produsen utama termasuk Arab Saudi, Rusia dan Irak telah meningkatkan output.
"Mengingat peningkatan pasokan baru-baru ini dari produsen tersebut, itu merupakan penurunan year-on-year dalam output minyak mentah hanya 0,2 juta bph untuk 2019," papar Ann-Louise Hittle, Vice President Wood Mackenzie.
Lima delegasi yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters menjelang pertemuan bahwa tingkat pemotongan pasokan yang disukai kartel itu akan secara efektif tergantung pada kontribusi Moskow.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan akan "jauh lebih sulit" bagi Moskow untuk memangkas produksi minyak selama musim dingin karena kondisi dingin di ladang minyak Rusia.
Presiden Donald Trump, Rabu, mendesak OPEC untuk terus memompa pada level saat ini guna mendorong harga bahan bakar lebih rendah. (Reuters/ef)

Sumber : Admin