Obligasi Emerging Market Asia Diproyeksikan Bangkit pada 2026
Thursday, December 11, 2025       15:11 WIB
  • Obligasi EM Asia berdenominasi mata uang lokal diperkirakan menguat pada 2026, didukung imbal hasil riil yang menarik, potensi apresiasi mata uang, dan pelonggaran The Fed.
  • Prospek ini diperkuat oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga di Indonesia, Thailand, Korea Selatan, dan Filipina, serta posisi kepemilikan asing yang masih ringan.
  • Tekanan inflasi yang mereda di kawasan juga mendukung, sehingga prospek obligasi Asia dinilai tetap sangat menarik untuk tahun depan.

Ipotnews - Obligasi berdenominasi mata uang lokal di kawasan  emerging market  Asia diperkirakan akan rebound pada 2026.
Fidelity International dan Bank of America Corp melihat adanya prospek yang membaik berkat imbal hasil obligasi riil yang menarik, serta potensi penguatan mata uang seiring pelonggaran kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kepemilikan asing yang masih rendah memberi ruang bagi pengelola dana global untuk kembali meningkatkan eksposurnya.
Belinda Liao, manajer portofolio di Fidelity International berpendapat, obligasi EM Asia berdenominasi mata uang lokal akan tampil kuat pada 2026 berkat apresiasi mata uang dan normalisasi kembali imbal hasil  carry  trade, kata. Pelonggaran The Fed akan menurunkan suku bunga AS relatif terhadap suku bunga lokal Asia, sehingga menarik kembali investor yang mencari peluang  carry trade , tambahnya seperti dikutip laman Bloomberg, Kamis (11/12).
Potensi perbaikan prospek obligasi Asia muncul pada saat penting bagi pemerintah regional yang ingin menopang mata uang mereka meski diperkirakan akan melonggarkan kebijakan moneter. Menurut median survei ekonom Bloomberg, Bank sentral di Indonesia, Thailand, Korea Selatan, dan Filipina diproyeksikan memangkas suku bunga secara kumulatif 175 basis poin hingga pertengahan 2026,.
Abhay Gupta, ahli strategi di BofA Securities Singapura, memperkirakan satu hingga tiga kali pemangkasan suku bunga tambahan dari bank sentral EM Asia. Bank Indonesia dinilai memiliki ruang paling besar dan bias kebijakan yang lebih dovish.
"Indonesia, Filipina, dan India menawarkan imbal hasil riil terbaik di kawasan, dan kami tetap  bullish  terhadap obligasi tenor lima tahun di negara-negara tersebut karena masih ada ruang untuk pelonggaran moneter lebih lanjut," kata Gupta kepada Bloomberg.
Indeks Bloomberg untuk obligasi EM Asia mencatatkan imbal hasil 3,70% tahun ini - berada di jalur untuk menjadi yang terendah dalam tiga tahun - dan kurang dari separuh imbal hasil dari indeks serupa untuk obligasi EM global pada periode yang sama.
Investor asing juga mungkin akan mengalirkan dana ke kelas aset ini jika mereka memutuskan untuk meningkatkan alokasi dari level yang saat ini masih relatif rendah.
"Posisi kepemilikan di pasar obligasi mata uang lokal EM Asia masih ringan," kata Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier. "Pemulihan awal arus masuk ke EM Asia akan menjadi lebih signifikan tahun depan jika kondisi pasar yang kondusif, sebagaimana yang kami perkirakan saat ini, benar-benar terwujud," imbuhh Lee.
Ke depan, kawasan ini akan mendapatkan dukungan dari tekanan inflasi yang mereda, dengan pertumbuhan harga di India, Thailand, Filipina, dan China berada di bawah target inflasi. Sementara itu, inflasi Indonesia berada nyaman dalam rentang target. Sebagai contoh, selisih antara imbal hasil obligasi pemerintah India tenor 10 tahun dan data inflasi terbaru naik menjadi 638 basis poin pekan ini, tertinggi dalam catatan.
"Prospek obligasi Asia untuk mendorong imbal hasil  fixed income  global pada 2026 tetap sangat menarik," kata Navin Saigal, kepala global fixed income Asia-Pasifik di BlackRock Inc., dalam sebuah pernyataan. (Bloomberg)


Sumber : admin