Obligasi dan Saham Amerika Merosot, "Greenback" Tertekan
Friday, October 12, 2018       06:14 WIB

Ipotnews - Dolar jatuh ke level terendah dua pekan terhadap sekeranjang mata uang, Kamis, karena para trader memangkas kepemilikan greenback seiring penurunan imbal hasil US Treasury dan kejatuhan saham Wall Street lebih lanjut.
Kenaikan indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pada periode September mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Federal Reserve, sehingga mengikis daya tarik dolar, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (11/10) atau Jumat (12/10) pagi WIB.
Terhadap dolar, euro melesat ke level tertinggi satu pekan setelah risalah pertemuan Bank Sentral Eropa bulan lalu menunjukkan penyusun kebijakan belum meninggalkan rencana mereka untuk mengakhiri program pembelian obligasi 2,6 triliun euro ECB pada tahun ini.
Yuan Cina menguat pada perdagangan offhsore, bangkit dari depresiasi awal akibat kejatuhan ekuitas global. Pedagang menepis komentar dari Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan dia tidak mundur untuk meningkatkan perang dagangnya dengan Beijing.
Departemen Tenaga Kerja AS, Kamis, mengatakan indeks harga konsumen naik 0,1 persen pada September, kurang dari perkiraan kenaikan 0,2 persen di kalangan analis yang disurvei Reuters.
Indeks dolar yang melacak greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama jatuh ke posisi 94,987, terendah sejak 28 September. Pada pukul 19.45 GMT, indeks tersebut turun 0,5 persen menjadi 95,034.
Imbal hasil US Treasury 10-tahun jatuh ke tingkat terendah satu pekan di posisi 3,1423 persen. Imbal hasil obligasi tersebut mencapai level tertinggi tujuh tahun 3,261 persen, Selasa.
Yen Jepang dan franc Swiss, yang merupakan mata uang pilihan pada saat gejolak pasar, menerima penawaran safe haven yang ringan, menguat 0,16 persen dan 0,04 persen terhadap greenback.
Prediksi dari pejabat The Fed yang dirilis bulan lalu menunjukkan mereka memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga pada 2019, dan beberapa mengatakan mereka terbuka untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember, menjadi yang keempat di tahun ini.
Rekan-rekan mereka di ECB tampak di jalurnya, berdasarkan risalah terakhir, untuk menormalkan kebijakan ultra longgar mereka pada tahun ini meski ada kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan di Eropa.
Mata uang tunggal zona euro itu naik 0,65 persen menjadi USD1,15925 setelah menyentuh level tertinggi satu minggu. Euro menguat 0,45 persen menjadi 129,885 yen.
Yuan naik 0,74 persen menjadi 6,8720 per dolar, rebound dari tingkat terendah delapan pekan pada perdagangan Kamis. (ef)

Sumber : Admin