- Fitch menetapkan outlook memburuk untuk pelayaran global akibat risiko geopolitik, perlambatan ekonomi dan proteksionisme yang mengganggu stabilitas rantai pasok.
- Dampaknya bagi Indonesia: biaya angkut berpotensi berubah, impor bahan baku bisa lebih murah namun jadwal/rute makin tidak pasti.
- Segmen tanker tetap kuat, sektor bulk relatif stabil, namun pembaruan armada nasional tertekan oleh biaya tinggi dan tuntutan regulasi IMO menuju Net Zero.
Ipotnews - Fitch Ratings Ltd menetapkan prospek memburuk (deteriorating outlook) pada sektor pelayaran global, karena dipicu risiko geopolitik, perlambatan ekonomi dunia dan peningkatan proteksionisme.
Menurut Corporate Ratings Director Fitch Ratings Ltd, Raman Singla dalam keterangannya yang disampaikan melalui surat elektronik, Rabu (10/12), kondisi tersebut dinilai berpotensi mempengaruhi kinerja logistik dan perdagangan di berbagai negara yang bergantung pada stabilitas rantai pasok internasional.
Dalam laporan Global Shipping Outlook 2026 yang dirilis di London, Fitch menyebutkan, ketidakpastian di jalur pelayaran utama ---termasuk risiko dibukanya kembali transit Laut Merah--- dapat menekan permintaan tonne-mile dan mengubah pola distribusi barang dunia.
Pemerhati sektor maritim menilai, risiko tersebut dapat berdampak pada biaya angkut (freight) ke dan dari Indonesia, terutama karena negara ini sangat bergantung pada jalur perdagangan Asia-Eropa dan Timur Tengah untuk komoditas seperti tekstil, elektronik, baja hingga energi.
Koreksi tarif angkut global yang diperkirakan terjadi pada 2026 berpotensi menurunkan pendapatan perusahaan pelayaran peti kemas internasional, namun di sisi lain dapat membawa dua dampak bagi Indonesia, seperti biaya impor bahan baku industri dapat menurun (positif) dan ketidakpastian jadwal maupun rute pelayaran (negative).
Sementara itu, peningkatan proteksionisme global berpotensi menghambat ekspor produk bernilai tinggi Indonesia, seperti CPO olahan, otomotif dan komponen elektronik. Namun demikian, beberapa jalur perdagangan baru dapat membuka peluang, termasuk peningkatan hubungan dagang ke Asia Selatan dan Afrika.
Fitch memproyeksikan segmen tanker ---terutama crude tanker--- tetap kuat pada 2026, sehingga secara tidak langsung dapat menguntungkan bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan permintaan global yang tetap tinggi, ketersediaan kapal tanker relatif stabil, sehingga mengurangi tekanan pada pasokan energi domestik.
Untuk sektor pelayaran curah kering (bulk), yang penting bagi ekspor batubara dan nikel Indonesia, kondisi fundamental global diperkirakan lemah namun relatif stabil. Artinya, permintaan kapal bulk masih ada, tetapi harga dan margin tidak setinggi tahun-tahun puncak sebelumnya.
Fitch mencatat, sejauh ini terjadi kenaikan moderat pada pesanan kapal baru global, sementara itu tingkat scrappage tetap rendah. Kondisi ini menciptakan pertumbuhan kapasitas yang terbatas --sesuatu yang juga dirasakan oleh sektor pelayaran nasional.
Di Indonesia, operator kapal yang ingin memperbarui armada harus menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Hal ini diperkirakan semakin menantang, setelah International Maritime Organisation (IMO) menerapkan kerangka Net Zero yang masih menunggu persetujuan.
(Budi/AI)
Sumber : admin