- Kemenangan Partai PM Jepang Sanae Takaichi memicu sentimen risk on global, menopang penguatan tipis rupiah terhadap dolar AS di awal pekan.
- Rupiah menguat 0,04% ke Rp16.869/US$ pada Senin pagi (9/2), seiring pasar Asia dibuka positif dan rebound saham AS.
- Penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena sentimen domestik masih lemah; investor menunggu data kepercayaan konsumen, dengan kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS.
Ipotnews - Kemenangan Partai pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam Pemilu Jepang, diprediksi menjadi sentimen positif yang menopang penguatan tipis kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di awal pekan ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (9/2), hingga pukul 09.12 WIB, rupiah sedang diperdagangkan menguat 7 poin atau 0,04% ke level Rp16.869 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir perdagangan Jumat (6/2) di Rp16.876 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan bahwa rupiah berpeluang menguat tipis karena menguat sentimen risk on di kalangan pelaku pasar saat ini. "Pasar Asia dibuka positif merepons kemenagan Takaichi dan rebound pada saham - saham di AS," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini melalui pesan WhatsApp.
Sebagaimana diketahui, Partai pimpinan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meraih suara mayoritas dalam pemilihan umum (pemilu) majelis rendah parlemen pada Minggu (8/2).
Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi berhasil mengamankan 316 dari 465 kursi di majelis rendah, melampaui ambang batas 233 kursi.
"Kami secara konsisten menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif," kata Takaichi kepada wartawan, setelah proyeksi media menunjukkan partainya menang dalam pemilu dini tersebut
Oleh sebab itulah Lukman menilai rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on global. Namun penguatan diperkirakan terbatas mengingat sentimen domestik yg masih lemah.
"Investor menantikan data survey kepercayaan konsumen siang ini. Range kurs rupiah diperkirakan di kisaran Rp16.800 - Rp16.900 per dolar AS," ujar Lukman.(Adhitya/AI)
Sumber : admin