- Pergantian Menkeu menjadi momen krusial yang akan diuji pasar terkait kesinambungan disiplin fiskal dan kualitas komunikasi kebijakan.
- Target RAPBN 2026 seperti pertumbuhan 5,4 persen dan inflasi 2,5 persen hanya tercapai jika konsolidasi fiskal, koordinasi dengan BI, dan kepercayaan pasar dijaga.
- Tiga langkah awal penting: menetapkan jangkar fiskal, strategi pembiayaan yang kredibel, serta komunikasi publik yang transparan untuk meredakan gejolak pasar
Ipotnews - Pergantian posisi Menteri Keuangan (Menkeu) dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa disebut menjadi titik krusial bagi arah kebijakan fiskal Indonesia.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai pasar akan segera menguji kesinambungan disiplin fiskal dan kualitas komunikasi kebijakan yang dibangun oleh menkeu baru.
Di dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang telah diumumkan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp16.500 per dolar AS, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun di level 6,9 persen.
Menurut Josua, target ini hanya dapat tercapai bila konsolidasi fiskal berjalan konsisten, sinergi dengan Bank Indonesia terjaga, dan kepercayaan pasar dipertahankan. Tanpa komitmen jelas, risiko pelemahan kurs, kenaikan premi risiko, serta beban bunga utang lebih tinggi sulit dihindari.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan akan bereaksi dengan meningkatnya volatilitas rupiah, yield SBN, dan pelemahan terbatas di bursa saham. "Langkah awal Purbaya sebagai Menkeu akan sangat menentukan apakah gejolak ini dapat segera mereda atau justru berlanjut," kata Josua saat dihubungi Ipotnews, Senin (8/9).
Ia juga menyoroti tantangan di sektor kualitas belanja negara, termasuk kritik atas prioritas anggaran, pemangkasan Transfer ke Daerah, hingga pelaksanaan program berskala besar yang dinilai perlu bertahap dan berbasis uji coba.
Menurut Josua, tiga langkah krusial dalam 100 hari pertama Purbaya sebagai Menkeu meliputi: menetapkan jangkar fiskal yang jelas, menyusun strategi pembiayaan yang kredibel dengan koordinasi erat bersama Bank Indonesia, serta memperkuat komunikasi publik yang transparan dan meyakinkan.
Ke depan, Josua menegaskan bahwa kinerja ekonomi Indonesia sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal. Jika jalur konsolidasi disiplin, belanja transparan, dan komunikasi teknokratis terjaga, target pertumbuhan 5,4 persen dinilai realistis.
"Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dapat memicu peningkatan volatilitas pasar, pelemahan rupiah, kenaikan yield SBN, hingga perlambatan ekonomi," ujarnya. (Marjudin/ AI)
Sumber : admin