Pasar Pertajam Fokus pada Utang dan Defisit, Mata Uang yang Didukung Amunisi Fiskal Lebih Besar akan Unggul
Friday, October 16, 2020       14:32 WIB

Ipotnews - Pasar obligasi telah melangkah maju triliunan dolar selama pandemi, terutama didorong oleh meningkatnya pengeluaran pemerintah. Namun investor di pasar valuta semakin mengkhawatirkan sisa kekuatan fiskal negara-negara dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tinggi.
Dengan kondisi dimana sebagian besar negara maju sudah kehabisan ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, investor semakin memperhatikan defisit anggaran pemerintah sebagai tolok ukur kekuatan mata uang. Negara-negara yang dapat mengerahkan lebih banyak amunisi fiskal, mata uangnya akan lebih unggul.
Rekor biaya pinjaman untra rendah rendah sejauh ini, diyakini telah menutupi kekhawatiran tentang defisit, yang cenderung menekan nilai tukar mata uang suatu negara. Namun saat investor menilai kembali keuangan publik, kinerja mata uang mulai bergerak menyimpang.
"Sebagian besar bank sentral mengupayakan pelonggaran sebanyak yang mereka bisa lakukan. Dalam menilai kepentingan relatif (kebijakan) moneter dan fiskal, kebijakan fiskal [saat ini] jelas meningkat," kata James Binny, Kepala Mata Uang Global di State Street Global Advisors, seprti dikutip Reuters, Jumat (16/10).
Pergeseran fokus investor dari suku bunga ke defisit dan rasio utang sebagai penggerak nilai tukar menyoroti mata uang calon pemenang dan pecundang. Pemenangnya diperkirakan, antara lain krown Norwegia dan Swedia, serta dolar Australia, yang telah menguat terhadap mata uang lain yang terbebani presentase defisit dan utang yang relatif lebih tinggi terhadap PDB.
Poundsterling, dolar Kanada dan berbagai mata uang  emerging market  diprediksi bakal tercecer. Bahkan dolar AS, sebagai mata uang cadangan dunia, kemungkinan tidak terkecuali. Binny mengaku menjagokan euro dibanding  greenback  karena pemerintah negara-negara zona euro memiliki "lebih banyak cadangan" untuk menaikkan pengeluaran tanpa mengungcang investor daripada AS.
Meski potensi kemenangan Demokrat dalam pemilihan presiden AS November nanti kemungkinan akan menambah lebih banyak stimulus AS, Eropa memiliki ruang - setidaknya di atas kertas - untuk melangkah lebih jauh.
Negara-negara zona euro diekspektasikan memiliki rasio utang terhadap PDB yang serupa dengan AS, sekitar 100%. Kekurangan anggaran AS tahun fiskal ini diproyeksikan sebesar 16% dari output tahunan, lebih besar dibandingkan seluruh zona euro sekitar 8,5%.
Pakar strategi Societe Generale Kit Juckes memprediksi "kekuatan euro yang lebih tinggi" jika Eropa mulai berbelanja dengan lebih royal. Juckes memperkirakan, dengan sekitar USD1,17 per euro saat ini, euro akan diperdagangkan antara USD1,20 dan USD1,30 pada tahun 2021.
Harga minyak yang lemah memang telah mendorong Norwegia ke dalam defisit anggaran pertamanya selama 25 tahun. Akan dalam beberapa pekan terakhir crown terus menguat, didukung oleh defisit yang kecil dan rasio uutang terhadap PDB di bawah 50%. Demikian pula, crown Swedia yang diuntungkan karena perkiraan defisit yang sebesar 4,2% dan rasio utang 35%, serta pemulihan ekonomi.
Dolar Australia telah mengungguli dolar Kanada tahun ini, meskipun kedua mata uang itu sangat terkait dengan harga komoditas. Meskipin defisit anggaran Australia sejak awal tahun hingga Juni lalu diperkirakan mencapai rekor 11%, tetapi defisit Kanada bisa mencapai 16%.
Rasio utang Australia yang sebesar 25% juga lebih baik dibandingkan dengan Kanda yang mencapai 31%. Rasio utang-PDB Australia diperkirakan akan naik menjadi sekitar 35% pada pertengahan 2021 dan Kanada menjadi 49% pada tahun fiskal 2020/21.
Menurut Juckes, politisi di negara-negara yang banyak berutang cenderung menolak peningkatan pengeluaran lebih lanjut, yang pada gilirannya membebani mata uangnya.
"Ini tentang seberapa berani Anda [meningkatkan pengeluaran] dan seberapa besar [kapasitas untuk berbelanja)," ujar Juckes. Ia mengekspektasikan isu fiskal akan lebih dominan pada tahun 2021.
Salah satu contohnya adalah Inggris di mana Menteri Keuangan Rishi Sunak telah memperingatkan perlunya memperbaiki keuangan publik melalui kenaikan pajak, dan mengganti skema cuti pekerja dengan rencana anggaran yang lebih ketat.
Dengan perkiraan defisit anggaran sebesar 18,9% dari PDB tahun ini - level yang tidak pernah tercapi sejak Perang Dunia Kedua - dan utang publik yang mencapai 100%, poundsterling diyakini akan mengalami kesulitan untuk membpersar pengeluaran. Di tengah ketidakpastian Brexit, poundsterling melemah terhadap dolar dan euro sapanjang tahun 2020.
Namun analis mengatakan, ada pengecualian untuk tren tersebut. Yen Jepang, secara historis dipandang sebagai tempat berlindung yang aman, telah menguat. Tabungan domestik negara yang sangat besar mampu mengimbangi kekhawatiran terhadap rasio utang publik terhadap PDB yang mencapai 230%. Dolar turun 3% terhadap yen sepanjang tahun ini. (Reuters)

Sumber : Admin

berita terbaru
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBCA
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBNI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:38 WIB
Target Price BBRI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:38 WIB
Target Price BBTN
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:37 WIB
Target Price BMRI