- Pefindo mempertahankan rating BCA Digital di level idAA+ dengan prospek stabil untuk periode 24 Juli 2026-1 Juli 2027, ditopang dukungan sangat kuat dari BCA sebagai induk usaha.
- Profil kredit BCA Digital ditopang permodalan dan likuiditas kuat, dengan CAR 35,6%, NPL 0,9%, DPK Rp15,41 triliun, serta aset Rp20,19 triliun per Maret 2026.
- Rating masih dibatasi risiko konsentrasi dan profitabilitas yang cukup, namun berpotensi naik jika dukungan BCA dan profil keuangan BCA Digital semakin kuat.
Ipotnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat kredit PT Bank Digital BCA (BCA Digital) pada level idAA+ dengan prospek stabil untuk periode 24 Juli 2026 hingga 1 Juli 2027.
Mengutip laporan Pefindo yang dipublikasikan 7 Agustus 2026 yang diterima Ipotnews melalui email, Senin (10/8) peringkat tersebut terutama ditopang oleh kemungkinan yang sangat kuat atas dukungan dari PT Bank Central Asia Tbk () selaku induk usaha BCA Digital.
"Profil kredit BCA Digital mencerminkan permodalan yang sangat kuat dan likuiditas yang kuat," tulis Pefindo dalam laporan tersebut.
Meski demikian, peringkat BCA Digital masih dibatasi oleh paparan terhadap risiko konsentrasi serta tingkat profitabilitas yang dinilai cukup.
Pefindo menyatakan peringkat BCA Digital dapat dinaikkan apabila terdapat peningkatan tingkat dukungan dari BCA. Hal tersebut dapat dipicu oleh kemampuan BCA Digital untuk secara konsisten memperkuat posisi bisnis dan meningkatkan profil keuangannya.
Sebaliknya, peringkat dapat diturunkan apabila dukungan dari induk usaha melemah. Penurunan peringkat juga dapat terjadi apabila terdapat penurunan kepemilikan BCA secara material atau profil bisnis maupun keuangan BCA Digital melemah secara substansial tanpa adanya sinyal langsung dari pemegang saham untuk memberikan dukungan.
Perubahan peringkat BCA juga berpotensi memicu perubahan peringkat BCA Digital dengan arah yang sama.
BCA Digital memiliki sejarah panjang yang bermula pada 1965, ketika perseroan didirikan dengan nama PT Bank Rakyat Parahyangan. Pada 2019, bank tersebut diakuisisi oleh BCA dan kemudian berganti nama menjadi BCA Digital serta beroperasi sebagai bank digital melalui aplikasi blu.
Berdasarkan data per 31 Maret 2026, sebanyak 99,99% saham BCA Digital dimiliki oleh BCA, sedangkan sisanya dimiliki PT BCA Finance.
Dari sisi kinerja keuangan, total aset BCA Digital pada akhir Maret 2026 mencapai Rp20,19 triliun, meningkat dari Rp18,92 triliun pada Desember 2025 dan Rp16,05 triliun pada Desember 2024.
Total ekuitas tercatat Rp4,25 triliun, sementara total kredit bruto mencapai Rp8,63 triliun, naik dari Rp8,57 triliun pada akhir 2025 dan Rp6,52 triliun pada akhir 2024.
Di sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp15,41 triliun pada Maret 2026, dibandingkan Rp14,30 triliun pada akhir 2025 dan Rp11,73 triliun pada akhir 2024.
Pefindo mencatat pendapatan bunga bersih BCA Digital sebesar Rp344,7 miliar pada Maret 2026. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp64,6 miliar, dengan net interest margin (NIM) sebesar 7,2% dan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional sebesar 83,8%.
Adapun return on average assets ( ROAA ) mencapai 1,3%. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau NPL (3-5) terhadap kredit bruto berada di level 0,9%, sedikit membaik dibandingkan 1% pada akhir 2025.
Dari sisi permodalan, rasio capital adequacy ratio (CAR) berbasis risiko mencapai 35,6%, menunjukkan bantalan modal yang kuat. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) berada di level 56%.
Pefindo menilai dukungan BCA menjadi salah satu faktor utama yang menopang peringkat BCA Digital. Dengan kepemilikan hampir seluruh saham serta posisi BCA sebagai induk usaha, kemampuan dan kemauan untuk memberikan dukungan menjadi faktor penting dalam profil kredit bank digital tersebut.(Adhitya/AI)
Sumber : Admin