Penerbitan Surat Utang Perusahaan Indonesia Menyusut Jelang Pemilu
Monday, April 16, 2018       14:49 WIB

Ipotnews - Lonjakan utang perusahaan-perusahaan Indonesia - yang tahun lalu meningkatmencapai nilai terbesar dalam pasar sindikasi pinjaman selama ini - tahun ini diperkirakan akan melemah. Meskipun pasar tetap terbilang sehat, namun perhatian pasarmulai mengarah ke pemilu kepala daerah pada tahun ini dan pemilu presiden tahun depan.
Maybank Investment Bank menyebutkan, pemilu mendorong para peminjam untuk berhenti sejenak. Namun secara keseluruhan para penerbit surat utang telah menandatangani pinjaman sebesar USD1,89 miliar pada tahun ini, dan kesepakatan baru sekitar USD2,8 miliar yang masih menunggu waktu peluncuran.
"Kami menduga, kecepatannya akan melambat dan peminjam belum akan melakukan belanja modal atau kesepakatan merger dan akuisisi yang signifikan selama menunggu pemilihan presiden baru," kata Caroline Teoh, direktur pelaksana dan kepala regional investment banking and advisory Maybank Investmnet, Kuala Lumpur.
"Momentumnya akan mulai meruncing jelang akhir tahun," imbuh Teoh, seperti dikutip Bloomberg, Senin (16/4).
Keputusan S&P Global Ratings untuk menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari status junk pada tahun 2017 yang didukung oleh perbaikan ekonomi, mendorong kenaikan pinjaman baru mencapai rekor USD28,9 miliar dalam pinjaman sindikasi. Akhir pekan lalu, Indonesia mendapatkan perbaikan peringkat dari Moody's Investors Service.
"Setelah mengalami perbaikan peringkat pada tahun lalu, sekarang ini ada momentum di pasar pinjaman Indonesia yang kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa bulan ke depan," sebelum melambat kembali, ujar Teoh.

"Pasar Indonesia telah aktif, dengan sebagian besar peminjam merupakan perusahaan pembiayaan non-bank yang perlu meminjam secara reguler," timpal John Corrin, kepala sindikasi pinjaman global Australia and New Zealand Banking Group, Hongkong. Menurutnya, untuk saat ini para peminjam tertarik pada pinjaman valas.
Indonesia Eximbank sejauh ini memangkas margin pinjamannya sebesar USD 950 juta hingga 50 basis poin dari kesepakatan 2016. MPM Finance, unit dari PT Mitra Pinasthika Mustika, menawarkan marjin 150 basis poin pada pinjaman senilai USD200 juta dengan rata-rata periode 2,125 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan 185 basis poin yang tersebar di fasilitas serupa pada 2017. PT Mandiri Tunas Finance menawarkan marjin 90 basis poin dari pinjamannya sebesar USD 100 juta, lebih rendah dari 113 basis poin dalam pinjaman tahun lalu.
Menurut Teoh, dalam beberapa bulan mendatang, peminjam akan memahami tentang bagaimana pemilihan presiden dan pilkada akan berlangsung dan "apa artinya bagi negara itu," kata Teoh di Maybank. "Saat ini mereka akan lebih banyak mengadopsi strategi wait and see," ujarnya. (Bloomberg/kk)

Sumber : Admin

berita terbaru
Monday, Apr 23, 2018 - 14:34 WIB
Financial Statements 1Q 2018 of MCAS
Monday, Apr 23, 2018 - 14:32 WIB
Financial Statements 1Q 2018 of BBKP
Monday, Apr 23, 2018 - 14:30 WIB
Financial Statements 1Q 2018 of FASW
Monday, Apr 23, 2018 - 14:26 WIB
Financial Statements Full Year 2017 of TIRA
Monday, Apr 23, 2018 - 14:23 WIB
Financial Statements Full Year 2017 of JSKY
Monday, Apr 23, 2018 - 14:21 WIB
Financial Statements Full Year 2017 of ARTO
Monday, Apr 23, 2018 - 14:14 WIB
Lima Strategi Pertumbuhan Sawit Sumbermas
Monday, Apr 23, 2018 - 14:14 WIB
PTPP Terbitkan RDPT Perpetual Rp1 Triliun