Peningkatan Rig dan Kebakaran Kilang AS Dorong Pelemahan Harga Minyak
Monday, February 11, 2019       15:22 WIB

Ipotnews - Harga minyak jatuh, Senin petang, ketika aktivitas pengeboran di Amerika mengalami peningkatan dan kebakaran kilang di negara bagian Illinois, AS, mengakibatkan penutupan unit penyulingan minyak mentah.
Kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi yang membatasi permintaan bahan bakar juga membebani pasar minyak, kata para pedagang.
Patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD52,17 per barel pada pukul 14.50 WIB, menyusut 55 sen, atau satu persen, dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Senin (11/2).
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, berkurang 27 sen, atau sekitar 0,4 persen, menjadi USD61,83 per barel.
Di Amerika Serikat, perusahaan energi minggu lalu meningkatkan jumlah rig minyak yang beroperasi untuk kedua kalinya dalam tiga pekan, laporan mingguan Baker Hughes, Jumat.
Perusahaan menambahkan tujuh rig minyak dalam pekan hingga 8 Februari, sehingga jumlah total menjadi 854 unit, menunjuk pada kenaikan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah Amerika, yang sudah mencapai rekor 11,9 juta barel per hari.
Harga WTI juga terbebani oleh penutupan unit penyulingan minyak mentah (CDU) Wood River, Illinois, milik Phillips 66, yang berkapasitas 120 ribu barel per hari, menyusul kebakaran Minggu.
Di tempat lain, bos raksasa minyak Rusia Rosneft, Igor Sechin, menulis surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kesepakatan Moskow dengan Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) untuk menahan produksi adalah ancaman strategis bagi nergara tersebut.
Kesepakatan OPEC + berlaku sejak 2017, yang bertujuan untuk mengekang kelebihan pasokan (oversupply) global. Perjanjian itu diperpanjang beberapa kali dan, di bawah kesepakatan terbaru, para peserta memangkas output sebesar 1,2 juta barel per hari hingga akhir Juni.
OPEC dan sekutunya akan bertemu pada 17 dan 18 April di Wina untuk meninjau pakta tersebut.
"Saya tidak berpikir Rusia akan...menarik diri dari perjanjian OPEC +...tetapi saya tidak akan terkejut jika pemotongan oleh negara non-anggota dari kartel itu dihentikan selama tahun ini," ujar Matt Stanley, broker Starfuels di Dubai.
Analis mengatakan kekhawatiran seputar ekonomi global juga membebani minyak mentah berjangka.
Vandana Hari, analis Vanda Insights, mengatakan dalam sebuah catatan bahwa harga minyak mentah terseret ke bawah "karena China kembali dari liburan Tahun Baru Imlek selama sepekan dan pasar saham regional jatuh ke zona merah di tengah bangkitnya kembali kekhawatiran atas sengketa perdagangan AS-China".
Perundingan perdagangan antara Washington dan Beijing dilanjutkan pekan ini dengan delegasi AS yang melakukan perjalanan ke China untuk putaran negosiasi berikutnya. Amerika Serikat mengancam akan menaikkan tarif yang sudah dikenakan terhadap barang-barang dari China pada 1 Maret jika pembicaraan perdagangan tidak menghasilkan kesepakatan.
Mencegah harga minyak mentah tidak jatuh lebih jauh adalah sanksi AS terhadap Venezuela, yang menargetkan BUMN minyak milik negara itu, Petroleos de Venezeula SA (PDVSA).
"Masalah di Venezuela terus mendukung harga. Laporan muncul bahwa PDVSA berusaha keras mengamankan pasar baru untuk minyak mentahnya, setelah AS memberikan sanksi tambahan pada negara itu," ungkap ANZ, Senin. (ef)

Sumber : Admin