Penyusutan Stok Amerika Lebih Tajam dari Estimasi, Minyak Terus Melesat
Wednesday, May 05, 2021       13:33 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Rabu siang, melanjutkan kenaikan dari sesi sebelumnya setelah data industri menunjukkan stok minyak mentah Amerika merosot lebih dari ekspektasi pekan lalu, memperkuat pandangan  bullish  pada permintaan bahan bakar di ekonomi terbesar dunia itu.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, meningkat 52 sen, atau 0,79% menjadi USD66,21 per barel pada pukul 13.16 WIB, setelah melesat ke posisi USD66,58 per barel, level yang tidak terlihat sejak 8 Maret, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Rabu (5/5).
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 58 sen, atau 0,84% menjadi USD69,46 barel setelah menyentuh tingkat tertinggi lebih dari tujuh pekan, yakni USD69,78 per barel, di awal sesi.
Kedua kontrak patokan itu melambung hampir 2% pada penutupan Selasa, menjelang rilis data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API).
"Harga minyak mentah tampaknya didukung oleh penarikan yang besar dalam persediaan minyak mentah dan bensin, menurut data API," kata Margaret Yang, analis DailyFX yang berbasis di Singapura.
"Prospek permintaan energi sangat cerah dengan pelonggaran penguncian di beberapa kawasan Amerika dan Inggris, yang membantu mengimbangi kekhawatiran atas permintaan yang lebih rendah dari India dan Jepang. Sepertinya,  driving season  musim panas mendatang dapat semakin meningkatkan permintaan bahan bakar dan mendukung harga minyak."
Data API menunjukkan stok minyak mentah menyusut 7,7 juta barel dalam pekan yang berakhir hingga 30 April, menurut dua narasumber. Angka itu lebih dari tiga kali lipat penarikan yang diprediksi sejumlah analis yang disurvei  Reuters. 
Selanjutnya,  trader  menunggu laporan dari Badan Informasi Energi Amerika yang akan dirilis pada pukul 14.30 GMT, Rabu, atau pukul 21.30 WIB, untuk melihat apakah data resmi juga menunjukkan penarikan yang besar.
"Jika dikonfirmasi oleh EIA, itu akan menandai penurunan mingguan terbesar dalam data resmi tersebut sejak akhir Januari," kata analis Commonwealth Bank, Vivek Dhar, dalam sebuah catatan.
Kenaikan harga minyak ke level tertinggi hampir dua bulan didukung oleh peluncuran vaksin Covid-19 di Amerika Serikat dan Eropa, membuka jalan bagi pencabutan penguncian pandemi dan peningkatan aktivitas perjalanan udara.
Sejauh ini, hal itu bisa mengimbangi penurunan permintaan bahan bakar di India, yang sedang berjuang melawan lonjakan infeksi.
"Namun, jika kita akhirnya melihat penguncian nasional diberlakukan, ini kemungkinan akan memukul sentimen," kata analis ING Economics tentang situasi di India. (ef)

Sumber : Admin