Perang Dagang Semakin Memanas, Menambah Penderitaan Emerging Market
Thursday, July 12, 2018       19:58 WIB

Ipotnews-Emerging market bisa mengalami kemerosotanlebih dalam pada tahun ini - memperburuk penurunan yang telah terjadi sepanjang 2018 ini -lantaran meningkatnya tekanan perang dagang dan kenaikan suku bunga di negara-negara maju.
Indeks iShares MSCI Emerging Markets exchange-traded fund (EEM), yang melacak saham-saham emerging market (EM), turun 8 persen dalam enam bulan pertama tahun ini, dan masih turun lebih dari 7 persen hingga pekan ini. Penurunan terbesar terjadi pada harga saham-saham Argentina, Turki, Brasil dan Cina.
Penurunan tajam itu terjadi setelah hubungan AS dengan sejumlah negara mitra dagangnya memburuk, dan bank sentral di seluruh dunia mulai menaikkan suku bunga, sehingga menempatkan EM pada ancaman gelombang masalah lebih lanjut.
"Ini benar-benar disebabkan oleh eskalasi ketegangan perdagangan di berbagai bidang," kata Jon Harrison, direktur strategi makro di TS Lombard. "Ini juga terjadi karena dilatarbelakangi kebijakan moneter ketat dengan kenaikan suku bunga bank sentral," imbuhnya seperti dikutip CNBC , Kamis (12/7).
"Banyak EM yang telah mengalami pertumbuhan ekspor dalam satu tahun terakhir, yang membantu perekonomiannya," kata Harrison. "Tapi itu tergantung pada peningkatan perdagangan global. Jika perdagangan dunia lebih rendah, para eksportir besar di EM akan terpukul, " ia menambahkan.
Ekuitas EM merosot hampir 2 persen pada Rabu lalu, setelah sehari sebelumnya AS merilis daftar barang produksi China yang kemungkinan akan terkena tarif impor baru. Washington menargetkan pengenaan tarif sekitar USD200 dari penerapan kebijakan tersebut.
Meningkatnya ketegangan perang dagang membuat investor di beberapa pasar modal besar menjadi terpojok. Indeks S&P 500 naik 1,6 persen untuk tahun ini. Di Eropa, indeks Stoxx 600 telah menurun 0,8 persen. Indeks Nikkei 225 Jepang juga turun lebih dari 2 persen. Namun demikian, penurunan itu tidak sebanding dengan pukulan yang dialami EM.
Indeks Merval Argentina turun 8,3 persen pada 2018, sementara indeks ISE National 100 Turki lonsor hampir 20 persen. Di Cina, Shanghai Composite sudah turun 16 persen dibanding awal tahun ini. Indeks Bovespa Brasil sempat turun hingga 8,6 persen sebelum pulih kembai sebagaian.
Penurunan tajam di pasar negara berkembang terjadi karena dolar telah melonjak terhadap mata uang negara-negara ini dan Federal Reserve menetapkan rencana untuk kenaikan suku bunga lebih banyak.
Real Brasil turun hampir 15 persen terhadap dolar, sementara lira Turki telah turun 24 persen. Yuan China turun lebih dari 4,5 persen sejak April dan telah tergelincir hampir 2 persen tahun ini. Sementara itu, peso Argentina telah jatuh hampir 50 persen tahun ini dan mencapai rekor terendah terhadap mata uang AS.
Penurunan tajam di EM terjadi setelah dolar melaju meninggalkan mata uang negara-negara itu, dan Federal Reserve menetapkan rencana untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi. Real Brazil anjlok hampir 15 persen terhadap dolar, dan lira Turki terpenggal 24 persen. Yuan China turun lebih dari 4,5 persen sejak April lalu, dan melorot lagi hampir 2 persen pada tahun ini. Sementara itu, peso Argentina rontok hampir 50% pada tahun ini, mencapai level terendah terhadap dolar AS.
"Seluruh krisis EM tahun ini pada dasarnya dipicu oleh kekurangan dolar di seluruh dunia," kata Larry McDonald, kepala strategi makro AS di ACG Analytics dan editor The Bear Traps Report.
Menurutnya, Federal Reserve AS telah menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, dan diekspektasikan akan naik dua kali lagi sebelum akhir tahun. The Fed memangkas suku bunga overnight menjadi nol persen selama krisis keuangan pada tahun 2008, demi merangsang perekonomian. Satu dekade kemudian, The Fed mulai menaikkan suku bunga secara bertahap mendekati level historisnya.
Imbal hasil US Treasury yields telah mencapai level tertinggi multiyear pada tahun 2018, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun di atas 3 persen, pada awal tahun ini. Imbal hasil acuan, sejak Mei lalu berada dalam kisaran antara 3 persen dan 2,77 persen.
"Saya berpikir tekanan penurunan EM belum sepenuhnya selesai," kata Jens Nordvig, pendiri Exante Data. "Ini ada hubungannya dengan ketegangan perdagangan global. Kita bisa menghadapi situasi di mana ketegangan perdagangan menghilang sebentar, tetapi kemudian Anda melihat imbal hasil US Treasury kembali menguat dan memukul EM lagi," ujarnya.
"Ini bisa menjadi masalah struktural," Nordvig menegaskan.
Tapi menurut McDonald dari ACG Analytics, mungkin ada peluang beli di EM pada saat ini karena meningkatnya ketegangan perdagangan akan menghambat kemampuan The Fed untuk menaikkan suku bunga. "Pada akhirnya nanti, risiko perdagangan akan jauh lebih banyak daripada yang bisa ditangani." ( CNBC /kk)

Sumber : Admin

berita terbaru
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:46 WIB
Indosat Realisasikan Obligasi Rp 2,71 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
Jasa Marga Raup Laba Bersih Rp 1,04 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
BTPN Bukukan Laba Bersih Rp 1,09 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
Penjualan Kabelindo Murni Turun 29,45%
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:44 WIB
Penjualan HEXA Capai 22,95% Dari Target
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:27 WIB
INCO mengintip potensi mobil listrik