Permintaan China Tinggi, Batubara "Selamat" dari Tekanan Perang Dagang
Thursday, July 12, 2018       16:39 WIB

Ipotnews - Sektor komoditas terpukul oleh meningkatnya ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing, tetapi batubara mengesampingkan kecenderungan itu karena permintaan China untuk bahan bakar fosil tersebut tetap tinggi.
Harga batubara termal patokan Australia melonjak 40 persen sepanjang tahun ini, menembus USD120 per metrik ton untuk kali pertama sejak 2012, demikian laporan CNBC , Kamis (12/7).
"Kami pikir lonjakan harga batubara menjadi respons terhadap musim panas yang luar biasa panas di China dan pertumbuhan ekonomi yang solid pada semester pertama tahun ini," kata Caroline Bain, Kepala Ekonom Capital Economics.
Musim panas yang lebih panas dari biasanya mendorong permintaan pendingin ruangan (AC).
Gelombang panas juga mengeringkan penampungan air, memukul produksi dari pembangkit listrik tenaga hidro, yang merupakan sumber utama energi terbarukan di China.
Berkontribusi terhadap krisis pasokan tersebut adalah penurunan secara luas pada produksi batubara domestik dalam beberapa tahun terakhir karena upaya China untuk membersihkan kondisi lingkungannya.
Semua faktor tersebut berkontribusi terhadap permintaan impor batubara yang lebih besar.
Pemasok batubara utama China adalah Australia, tetapi Amerika Serikat juga mengekspor sumber bahan bakar tersebut ke ekonomi terbesar di Asia itu.
Ekspor batubara Amerika ke China meningkat dua kali lipat dari 2016 hingga 2017, tetapi bahan bakar fosil itu bakal dikenakan tarif impor 25 persen mulai pada tanggal yang tidak ditentukan.
Penguatan batubara sangat kontras dengan indeks industri logam dan pertanian S&P GSCI yang anjlok lebih dari delapan persen karena kombinasi ketakutan perang dagang global dan ekonomi China yang lebih lembut, papar Bain.
Para pemerhati lingkungan berkampanye untuk mengakhiri penggunaan batubara--umumnya lebih kotor ketimbang sumber bahan bakar lain seperti gas alam--tetapi permintaan untuk komoditas itu tetap bertahan sejauh ini. Itu bahkan berlaku di China, di mana pemerintah berupaya membersihkan polusi udara yang sangat sensitif secara politik.
Raksasa energi BP mengatakan dalam tolok ukur tahunan Statistical Review of World Energy, bahwa pangsa batubara yang digunakan dalam pembangkit listrik mencapai 38 persen--praktis tidak berubah dari 1997.
Di China, kapasitas untuk energi terbarukan dan bahan bakar yang lebih bersih seperti gas alam, belum berhasil memenuhi pertumbuhan permintaan, terutama mengingat sumber alternatif seperti pembangkit listrik tenaga air yang harus mengurangi output karena kondisi cuaca, atau infrastruktur gas yang masih belum siap.
J.P. Morgan mengatakan dalam catatan baru-baru ini bahwa pertumbuhan pembangkit listrik China naik delapan persen dari Januari hingga April-- lebih dari dua kali lipat dari prediksinya yang hanya tiga persen. Pertumbuhan itu karena peningkatan daya termal, ungkap J.P. Morgan.
Selain China, permintaan dari Jepang dan negara-negara berkembang di Asia Tenggara juga mendukung harga batubara. Itu terjadi karena pasokan mengetat karena kampanye lingkungan yang bersih telah mengeringkan dana dan investasi di sektor ini. (ef)

Sumber : Admin