Permintaan Global Terancam Perang Dagang AS-China, Harga Minyak Jatuh
Thursday, July 12, 2018       04:58 WIB

Ipotnews - Patokan global, minyak mentah Brent, mencatatkan kejatuhan satu hari terbesar dalam dua tahun, Rabu, karena meningkatnya ketegangan perdagangan Amerika-China yang mengancam permintaan komoditas "emas hitam" itu.
Selain itu, berita bahwa Libya akan membuka kembali pelabuhannya meningkatkan ekspektasi pasokan yang terus meningkat.
Minyak mentah Brent anjlok USD5,46 atau 6,9 persen, menjadi menetap di posisi USD73,40 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (11/7) atau Kamis (12/7) dini hari WIB. Penurunan tersebut adalah pergerakan satu hari terbesar dalam basis persentase sejak 9 Februari 2016.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut USD3,73 atau sekitar lima persen, menjadi USD70,38 per barel.
Aksi jual dimulai pada awal sesi setelah National Oil Company Libya mengatakan akan membuka kembali pelabuhan yang ditutup sejak akhir Juni.
"Berita tentang Libya hanyalah pemicu," kata John Saucer, analis Mobius Risk Group. Aksi jual semakin tajam setelah berita penurunan persediaan minyak mentah Amerika gagal membalikkan sentimen pasar.
Tekanan jual meningkat ketika ketegangan perdagangan antara Amerika dan China menimbulkan kekhawatiran tentang permintaan. Ancaman tarif terhadap barang-barang China senilai lebih dari USD200 miliar mendorong kejatuhan komoditas, bersama dengan pasar saham, karena ketegangan antara ekonomi terbesar dunia itu semakin intensif.
"Meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika dan China telah mendorong penghindaran risiko pada sesi perdagangan hari ini, yang terbukti dalam harga minyak," ujar Abhishek Kumar, analis Interfax Energy.
Harga minyak mentah juga turun karena dolar AS melesat, didorong laporan inflasi Amerika yang cukup kuat, meningkatkan prospek Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dua kali lebih banyak pada tahun ini. Dolar yang lebih kuat bisa menekan komoditas yang dihargakan dalam greenback, seperti minyak mentah.
"Kekhawatiran perdagangan menjadi sentimen utama hari ini," papar Michael McCarthy, analis CMC Markets. "Jika tarif ini diperkenalkan, akan ada dampak terhadap pertumbuhan dan permintaan global." China adalah pembeli utama minyak mentah WTI, dan mengatakan bisa mengenakan pajak atas minyak Amerika jika ketegangan perdagangan meningkat.
National Oil Corp, Libya, yang berbasis di Tripoli, Rabu, mengatakan empat terminal ekspor dibuka kembali setelah faksi di sebelah timur negara itu menyerahkan pelabuhan, mengakhiri kebuntuan yang memicu penurunan produksi minyak Libya.
Produksi minyak Libya turun menjadi 527.000 barel per hari (bph) dari 1,28 juta bph setelah penutupan pelabuhan pada akhir Juni, kata NOC, Senin.
"Faktor Libya mengubah pembicaraan tentang kapasitas cadangan," ucap John Kilduff, mitra di Again Capital Management. Kekhawatiran tentang kurangnya kapasitas cadangan menyebabkan minyak mentah reli.
Prospek sanksi Amerika terhadap ekspor minyak mentah dari Iran, produsen minyak terbesar kelima dunia, membantu mendorong harga minyak dalam beberapa pekan terakhir, dengan kedua kontrak minyak itu mendekati level tertinggi tiga setengah tahun hingga Rabu.
Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo, Selasa, mengatakan Washington akan mempertimbangkan permintaan dari beberapa negara untuk dibebaskan dari sanksi tersebut yang berlaku mulai November untuk mencegah Iran mengekspor minyak.
Washington sebelumnya mengatakan semua negara harus menghentikan impor minyak Iran mulai 4 November atau menghadapi pembatasan keuangan Amerika, tanpa pengecualian.
Pasar mengabaikan data pemerintah Amerika yang menunjukkan stok minyak mentah merosot hampir 13 juta barel, pekan lalu, penurunan terbesar dalam hampir dua tahun terakhir. Pasokan ke pasar Amerika juga terhimpit oleh hilangnya sebagian produksi minyak Kanada. (ef)

Sumber : Admin