- PDB kuartal II 2026 diperkirakan hanya tumbuh 4,5%, turun dari 5% pada kuartal sebelumnya dan berada di batas bawah target tahunan pemerintah China.
- Lemahnya konsumsi, krisis properti, dan investasi menjadi faktor utama perlambatan, meski ekspor dan sektor teknologi berbasis AI masih menopang ekonomi.
- Pasar menantikan sinyal stimulus baru dari pemerintah dan pertemuan Politbiro bulan ini untuk menjaga pertumbuhan tetap sesuai target.
Ipotnews - Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat pada kuartal II 2026, meningkatkan spekulasi bahwa pemerintah akan mempercepat belanja fiskal atau meluncurkan stimulus tambahan guna memastikan target pertumbuhan tahunan tetap tercapai.
Berdasarkan survei Bloomberg terhadap para ekonom, produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan tumbuh 4,5% secara tahunan pada periode April-Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5% pada kuartal pertama dan berada tepat di batas bawah target pertumbuhan pemerintah tahun ini yang dipatok pada kisaran 4,5%-5%.
Secara kuartalan, ekonomi China diproyeksikan hanya tumbuh 0,9%, yang akan menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak 2023.
Perlambatan ini terutama dipicu oleh lemahnya konsumsi rumah tangga, berlanjutnya krisis di sektor properti, serta penurunan investasi di luar sektor-sektor prioritas seperti manufaktur berteknologi tinggi.
Meski demikian, sejumlah faktor masih menopang perekonomian. Ekspor China tetap menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya proteksionisme perdagangan global dan konflik di Timur Tengah. Selain itu, produsen China juga mendapat manfaat dari lonjakan investasi global di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang mendorong permintaan terhadap produk teknologi.
Kepala Ekonom Greater China ING Bank, Lynn Song, memperkirakan pemerintah akan mempercepat realisasi anggaran yang telah disetujui sebelumnya, meski belum melihat indikasi adanya paket stimulus baru dalam waktu dekat.
"Ada kemungkinan pemerintah mempercepat penyaluran dana yang sudah dialokasikan tahun ini, tetapi kami belum memperkirakan adanya persetujuan stimulus baru," tulis Song dalam risetnya.
Namun demikian, Perdana Menteri Li Qiang dalam pertemuan dengan para pakar dan pelaku usaha pada Senin tidak menutup kemungkinan adanya langkah kebijakan tambahan. Pelaku pasar kini menantikan hasil pertemuan Politbiro Partai Komunis China yang dijadwalkan berlangsung bulan ini sebagai petunjuk arah kebijakan ekonomi pada paruh kedua 2026.
Selain data PDB, Biro Statistik Nasional China juga akan merilis sejumlah indikator ekonomi penting untuk Juni, termasuk investasi, konsumsi, dan produksi industri.
Di sektor investasi, penurunan investasi aset tetap diperkirakan semakin dalam menjadi 5% pada periode Januari-Juni dibandingkan tahun sebelumnya, lebih buruk dibandingkan kontraksi 4,1% pada lima bulan pertama tahun ini. Penurunan investasi properti bahkan diproyeksikan memburuk menjadi 16,8%, level terlemah sejak pandemi 2020.
Meski pemerintah daerah masih berhati-hati dalam meningkatkan belanja infrastruktur karena fokus mengendalikan risiko utang dan lemahnya pendapatan dari penjualan lahan, para ekonom memperkirakan belanja publik akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Penerbitan obligasi khusus pemerintah daerah serta pembiayaan melalui bank kebijakan diperkirakan akan dipercepat untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional dalam Rencana Lima Tahun terbaru China.
Ekonom Australia & New Zealand Banking Group (ANZ) memperkirakan kebijakan fiskal akan menjadi penopang utama pertumbuhan pada semester II 2026. Mereka tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 4,8% untuk semester kedua maupun sepanjang tahun 2026.
Sementara itu, konsumsi domestik diperkirakan masih lemah. Penjualan ritel pada Juni diproyeksikan hanya turun 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya, membaik dari penurunan 0,6% pada Mei yang menjadi kontraksi pertama sejak 2022.
Perbaikan tersebut sebagian didorong oleh meredanya tekanan harga minyak sehingga daya beli masyarakat sedikit meningkat, termasuk untuk sektor perjalanan. Selain itu, penurunan penjualan peralatan rumah tangga juga mulai melambat selama festival belanja daring "618".
Namun, konsumsi masih dibayangi efek berakhirnya program subsidi pemerintah untuk pembelian barang konsumsi. Penjualan mobil penumpang di China bahkan anjlok 23,2% pada Juni dibandingkan tahun lalu, menjadi bulan ketujuh berturut-turut dengan penurunan dua digit.
Di sisi produksi, output industri diperkirakan tumbuh 4,6% pada Juni, sedikit lebih tinggi dibandingkan 4,5% pada Mei. Sektor manufaktur berteknologi tinggi tetap menjadi motor pertumbuhan, terutama industri komputer, telekomunikasi, dan perangkat elektronik yang menikmati lonjakan permintaan global akibat ekspansi AI.
Perbedaan kinerja antarindustri juga semakin mencolok. Laba produsen elektronik serta logam non-ferrous seperti tembaga dan aluminium meningkat lebih dari dua kali lipat pada Januari-Mei dibandingkan tahun lalu, didorong tingginya permintaan dari industri AI dan energi terbarukan.
Sebaliknya, produsen furnitur dan logam ferrous, termasuk baja, mencatat penurunan laba sedikitnya 37% pada periode yang sama, mencerminkan masih lemahnya permintaan domestik dan sektor properti.
Menurut Lynn Song, keberhasilan China mempersempit kesenjangan antara sektor ekonomi baru dan tradisional pada paruh kedua tahun ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menstabilkan permintaan domestik serta menghentikan penurunan di pasar properti.(Bloomberg)
Sumber : Admin