Pertumbuhan Global 2019-20 Melambat, Emerging Market Melemah: Moody’s
Thursday, November 08, 2018       17:04 WIB

Ipotnews - Laporan terbaru Moody's Investor Service menyebutkan, pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada 2019 dan 2020 menjadi sedikit di bawah 2,9%, dari perkiraan 3,3% pada 2018 dan 2017.
Hasil riset bertajuk "Global Macro Outlook: 20019-20" itu juga mengeskpektasikan perlambatan perdagangan global di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan yang akan berdampak buruk tidak hanya pada pertumbuhan di AS dan China.
Pelambatan perdagangan global juga akan mempengaruhi pertumbuhan di negara-negara dengan perekonomian terbuka seperti Jepang, Korea dan Jerman.
"Di AS, memudarnya stimulus fiskal, berlanjutnya penghapusan akomodasi moneter dan langkah-langkah perdagangan yang lebih ketat akan menurunkan pertumbuhan. Kawasan euro juga akan melihat tren moderasi siklis pada pertumbuhannya," papar Moody's dalam laman resminya. Kamis (8/11).
Kendati demikian, "Pertumbuhan di negara maju akan melambat tetapi tetap solid pada 2019, sementara pertumbuhan emerging market G20 akan tetap lemah," kata Wakil Presiden Moody, Madhavi Bokil, penulis utama laporan tersebut.
Kontraksi ekonomi Turki dan Argentina dan juga pelambatan di China, akan menekan rata-rata pertumbuhan emerging market pada 2019. Pertumbuhan emerging market G20 akan melemah dari estimasi 5% pada 2018, menjadi 4,6% pada 2019, dan menguat ke 4,9% pada 2020. Hambatan struktural, pengetatan kondisi keuangan, dan harga minyak yang tinggi akan semakin membatasi pertumbuhan beberapa negara emerging market.
Menurut Moody's, dampak penghapusan akomodasi kebijakan moneter secara bertahap oleh bank-bank sentral negara maju akan menyebar hingga ke luar wilayahnya. Ketika bank-bank sentral besar mulai menghapuskan panduan dan menghentikan kebijakan moneter akomodatif, volatilitas keuangan, premi dan spread kredit akan meningkat secara global. Moody mengasumsikan, proses tersebut akan berjalan relatif lancar, kadang-kadang terganggu oleh volatilitas pasar keuangan
Moody's mengekspektasikan gesekan perdagangan dan geopolitik AS-China kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu. Situasi ini akan membebani pertumbuhan perdagangan global dan akan membentuk arus perdagangan dan rantai pasokan baru. Bertolak belakang dengan perjanjian perdagangan Amerika Utara, USMCA, yang akan diratifikasi pada 2019, yang menyepakati peraturan tentang asal barang, resolusi konflik, pertanian dan pengadaan pemerintah. (kk)

Sumber : Admin