Perusahaan China Kuasai sekitar 75% Kapasitas Pemurnian Nikel Indonesia – Laporan C4ADS
Wednesday, February 05, 2025       15:36 WIB

Ipotnews - Laporan C4ADS, lembaga nirlaba keamanan global yang berbasis di Washington, menyebutkan perusahaan-perusahaan China menguasai sekitar 75% kapasitas pemurnian nikel di Indonesia.
C4ADS juga menyebutkan kondisi tersebut berisiko menimbulkan kekhawatiran akan kontrol rantai pasokan dan risiko-risiko lingkungan.
Menurut laporan tersebut, kapasitas pemurnian 8 juta metrik ton nikel Indonesia tersebar di 33 perusahaan, tetapi penelusuran kepemilikan menunjukkan adanya tumpang tindih pemegang saham. Pada akhirnya C4ADS menyimpulkan perusahaan-perusahaan China menguasai sekitar tiga perempat kapasitas peleburan pada tahun 2023.
"Karena Indonesia berniat untuk menggunakan industri nikel sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, pengaruh asing yang besar ini dapat membatasi kemampuannya untuk mengendalikan dan mengarahkan industri untuk keuntungannya," tulis laporan tersebut, yang dikutip Reuters, Rabu (5/2).
C4ADS berpendapat,di tengah kebijakan AS dan Eropa yang semakin membatasi perdagangan dengan China, ketergantungan pada produksi nikel yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan China juga menempatkan produsen mobil listrik AS dan Eropa pada posisi yang tidak menguntungkan di pasar EV global. Nikel adalah salah satu komponen utama baterai kendaraan listrik.
Sejauh ini, belum ada komentar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tentang laporan tersebut.
Reuters melaporkan, seorang pejabat Indonesia mengatakan tahun lalu bahwa perusahaan-perusahaan China mendekati perusahaan-perusahaan Indonesia dan Korea Selatan untuk kemitraan potensial guna mengurangi kepemilikan mereka di smelter. dan membuat produk mereka lebih mudah diakses oleh pasar AS.
Presiden Prabowo Subianto membentuk sebuah gugus tugas untuk mengembangkan industri hilir mineral dengan pembiayaan dalam negeri untuk "secara bertahap mengurangi persepsi bahwa pihak asing mendapatkan keuntungan paling banyak," kata Menteri Pertambangan Bahlil Lahadalia bulan lalu.
Laporan C4ADS menemukan bahwa dua perusahaan China, Tsingshan Holding Group dan Jiangsu Delong Nickel Industry Co Ltd, menguasai lebih dari 70% kapasitas pemurnian nikel di Indonesia pada tahun 2023.
Kedua perusahaan tersebut merupakan salah satu investor awal ketika Indonesia mulai mendorong pengolahan bijih nikel di dalam negeri - sebuah langkah yang menjadikan Indonesia sebagai produsen nikel dominan di dunia.
Tahun lalu, pengadilan di Sulawesi Tengah menjatuhkan hukuman tujuh bulan penjara kepada dua pekerja di Indonesia Tsingshan Stainless Steel atas kelalaian yang menyebabkan kebakaran dan kematian di fasilitas Tsingshan pada bulan Desember 2023. Pada awal tahun 2023, dua pekerja tewas dalam bentrokan di pabrik peleburan PT Gunbuster Nickel Industry di Morowali Utara yang dimiliki oleh Jiangsu Delong Nickel Industry.
Tsingshan dikabarkan telah menjual saham di beberapa smelternya, termasuk kesepakatan dengan BUMN , PT Aneka Tambang, Tbk pada Oktober lalu, untuk menguasai 30% saham PT Jiu Long Metal Industry. (Reuters)

Sumber : admin