AI News - Masoud Pezeshkian, presiden Iran, menegaskan pada 12 September 2026 bahwa negaranya tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, sambil bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi menjelang KTT BRICS; konflik di Selat Hormuz serta harga minyak mendekati US$107 per barel menambah ketegangan energi global.
Poin Penting
- Iran menolak menyerah dan menyatakan telah berhasil menahan agresi AS serta Israel.
- Harga minyak mentah dunia meningkat mendekati US$107 per barel.
- India mengimpor hampir 85 % kebutuhan bahan bakar melalui jalur laut.
- Dua kapal berisi 30 pelaut India diserang di Selat Hormuz pada Juli.
- Sepuluh pelaut India dilaporkan tewas akibat konflik di Timur Tengah.
Mengapa Presiden Iran Menegaskan Tidak Menyerah di Hadapan Pemimpin India?
Menurut CNBC International, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran "tidak akan menyerah" setelah menahan serangan gabungan AS-Israel, menekankan keberhasilan negara itu dalam melawan "bullying arrogance". Pernyataan itu disampaikan saat ia berbicara di depan pemimpin agama dan bisnis India, sebagai upaya menggalang dukungan dari negara-negara BRICS. Ia menyoroti bahwa Iran telah "berhasil berdiri melawan Israel dan AS", menandakan sikap keras dalam menghadapi sanksi dan blokade ekonomi. Bagi para investor, sikap tegas ini mengisyaratkan kemungkinan peningkatan risiko geopolitik yang dapat memengaruhi harga komoditas, khususnya minyak, serta menambah ketidakpastian dalam hubungan dagang dengan negara-negara Barat.
Bagaimana Konflik di Selat Hormuz Mempengaruhi Pasokan Energi dan Harga Minyak Global?
Bloomberg Technoz melaporkan bahwa serangan AS terhadap kapal tanker Iran serta bentrokan milisi Houthi di Yaman telah mempersempit aliran minyak melalui Selat Hormuz, memaksa pengiriman menjadi "trickle" dan menimbulkan penundaan berhari-hari bagi kapal-kapal dagang. Akibatnya, pasar spot menanggapi dengan menaikkan harga minyak mendekati US$107 per barel, tingkat tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. India, sebagai importir energi terbesar yang mengandalkan 85 % bahan bakar melalui jalur tersebut, menghadapi risiko kekurangan pasokan dan kenaikan biaya energi, yang pada gilirannya dapat memperburuk defisit perdagangan dan menambah tekanan inflasi. Bagi pelaku pasar, indikator ini menjadi sinyal bahwa ketegangan geostrategis masih dapat memicu volatilitas harga komoditas energi.
Apa Implikasi Pertemuan Pezeshkian dan Modi terhadap Stabilitas Perdagangan India-Iran?
CNBC International mencatat bahwa dalam pertemuan empat mata, Modi menekankan pentingnya "dialogue dan diplomasi" serta keamanan pelaut, sementara Pezeshkian menegaskan komitmen Iran untuk melindungi kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Kedua pemimpin sepakat memperkuat kerja sama dagang non-dolar melalui BRICS, dengan harapan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan AS. Meskipun konflik mengganggu jalur suplai, India tetap berupaya diversifikasi sumber energi, mengingat 10 pelautnya telah tewas dan dua kapal berisi 30 pelaut India diserang pada Juli. Dengan dukungan China dan Rusia, Iran berharap dapat mempertahankan ekspor minyak ke India, sementara New Delhi menyeimbangkan hubungan antara Tehran dan Washington. Bagi pasar, sinergi ini dapat menstabilkan arus perdagangan energi meski risiko geopolitik tetap tinggi.
Sumber : AI News