- Harga kedelai, jagung, dan gandum turun karena cuaca panen AS mendukung.
- Lemahnya permintaan China dan harga minyak rendah tekan pasar.
- Produksi gandum Rusia naik menambah pasokan global.
Ipotnews - Harga kedelai dan jagung berjangka Chicago jatuh ke level terendah dalam beberapa bulan, Kamis, sementara gandum juga melemah seiring meningkatnya aktivitas panen musim dingin dan prospek cuaca yang mendukung di Amerika Serikat.
Kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade ( CBOT ) merosot 0,37% menjadi USD1.149,75 per bushel pada pukul 14.03 WIB, level terendah dalam hampir dua bulan, demikian laporan Reuters, Kamis (4/6).
Jagung CBOT melorot lebih dalam sebesar 1,39% menjadi USD425,75 per bushel, level terendah sejak 20 Februari. Sementara itu, gandum turun 0,64% ke posisi USD583,50 per bushel, juga mendekati posisi terendah dua bulan.
Ketiga komoditas utama tersebut tercatat berada di jalur penurunan untuk sesi kelima berturut-turut.
Tekanan harga terutama dipicu prospek cuaca yang lebih baik di kawasan Midwest Amerika Serikat, yang membantu meningkatkan ekspektasi hasil panen jagung dan kedelai musim baru. Menurut Commodity Weather Group, kondisi hujan ringan dan suhu yang lebih sejuk meredakan kekhawatiran terhadap kekeringan pada fase penting pertumbuhan tanaman.
Di sisi lain, analis Bendigo Bank Agribusiness menyebut kedelai masih berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran berkelanjutan terhadap lemahnya permintaan impor dari China, salah satu pembeli utama global.
Harga minyak mentah yang juga melemah turut menambah tekanan pada jagung dan kedelai, mengingat kedua komoditas tersebut memiliki peran dalam produksi biofuel.
Namun demikian, pelaku pasar menilai sensitivitas pasar biji-bijian terhadap harga energi mulai berkurang dalam beberapa pekan terakhir, seiring kembali dominannya faktor fundamental pasokan musiman.
Di sisi pasokan, panen gandum musim dingin di Amerika Serikat kini mulai berlangsung. Data Departemen Pertanian AS ( USDA ) menunjukkan sekitar 5% tanaman telah dipanen per akhir pekan lalu. Namun, kondisi tanaman masih relatif lemah, dengan hanya 26% yang dikategorikan baik hingga sangat baik.
Pelaku pasar juga menantikan laporan penjualan ekspor mingguan USDA yang akan dirilis hari ini, mencakup periode hingga 29 Mei, untuk mencari petunjuk arah permintaan global.
Dari sisi global, lembaga konsultan IKAR Rusia memperkirakan produksi gandum negara tersebut pada 2026 mencapai 91,5 juta ton, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 90 juta ton, menambah tekanan pada prospek pasokan global. (Reuters/AI)
Sumber : Admin