Rating Buy ITMG Bertahan Meski Kinerja Kuartalan Melemah
Wednesday, May 15, 2019       17:35 WIB

Ipotnews - Laba bersih Indo Tambangraya Megah () melemah di periode kuartal pertama tahun ini (1Q19) akibat faktor harga jual rata-rata (ASP) yang lebih rendah dari perkiraan. Begitu pula aktivitas pre stripping yang lebih rendah.
Hal ini menyebabkan naiknya rasio stripping (SR) serta biaya penambangan. Laba bersih longsor 37 persen (QoQ) dan 32 persen (YoY) menjadi USD 39 juta. Sedangkan laba operasi drop 49 persen (QoQ) dan 35 persen (YoY) menjadi USD 57 juta.
Volume produksi batu bara yang dihasilkan drop 10 persen (QoQ) namun naik 40 persen secara tahunan (YoY) seiring faktor cuaca yang relatif baik dibanding periode 1Q18. Pendapatan mencapai USD 453 juta atau turun 24 persen (QoQ) tetapi naik 20 persen (YoY).
China masih sebagai konsumen terbesar dengan penjualan batu bara ke negara tersebut mencapai 1,9 juta tons di 1Q19. Ekspor ke China ini sekitar 31 persen dari total volume penjualan sebanyak 6 juta ton di 1Q.
Sedangkan penjualan ke Jepang 18 persen dari total penjualan diikuti India sebesar 15 persen dan penjualan dalam negari sebesar 11 persen total sales. Perseroan mungkin diuntungkan oleh penundaan impor batu bara dari Australia menyebabkan importer batu bara dari China mencari alternatif suplai.
Hal ini menguntungkan karena kualitas batu bara yang sama terhadap batu bara dari Australia.
Harga Jual
Diperkirakan hanya akan sedikit volatilitas dalam ASP perseroan pada kuartal mendatang di tahun ini. Analis PT Indo Premier Sekuritas, Frederick Daniel Tanggela mencatat, hingga 1Q19, memiliki kontrak volume penjualan sebesar 78 persen dari target sebanyak 26,5 juta ton di proyeksi 2019.
Mayoritas (40%) kontrak tersebut di bawah harga fixed dan 32 persen target penjualan dengan harga terkait indeks harga. Sementara sisanya, 22 persen tidak terjual. Dengan mayoritas porsi harga fixed tersebut ASP kontrak penjualan batu bara perseroan turun hanya 5 persen (QoQ) menjadi USD 71,1 per ton di 1Q yang berarti lebih baik dari harga acuan rata-rata Newcastle yang turun 10 persen (QoQ).
Rekomendasi
Analis Indo Premier tersebut menurunkan proyeksi laba sebesar 18 persen pada 2019 dan 16 persen pada 2020 seiring estimasi penyesuaian ASP serta penerapan SR.
Target price (TP) turun menjadi Rp22.000 dari sebelumnya Rp27.500 per saham. Namun rekomendasi Buy saham dipertahankan dengan potensi kenaikan harga 24 persen dari target price baru tersebut.
(Riset Indo Premier Sekuritas)

Year To 31 Dec

2017A

2018A

2019F

2020F

2021F

Revenue (US$Mn)

1,690

2,008

1,831

1,862

1,981

EBITDA (US$Mn)

448

504

316

340

365

EBITDA Growth (%)

61.1

12.6

(37.3)

7.8

7.4

Net Profit (US$Mn)

253

262

151

162

172

EPS (US$Cents)

22.4

23.2

13.4

14.4

15.2

EPS Growth (%)

93.3

3.7

(42.2)

7.2

6.0

Net Gearing (%)

(39.1)

(37.9)

(21.3)

(19.5)

(14.6)

PER (x)

5.5

5.3

9.2

8.5

8.1

PBV (x)

1.4

1.4

1.5

1.4

1.4

Dividend Yield (%)

14.4

18.0

15.1

8.7

10.0

EV/EBITDA (x)

2.3

2.0

3.8

3.5

3.4

 Source: , IndoPremier ;   Share Price Closing as of : 14-May-2019 

Sumber : admin
17,225
-1.1 %
-200 %

96

BidLot

123

OffLot