Rekomendasi Saham Vale (INCO) usai Rilis Lapkeu
Friday, August 01, 2025       20:39 WIB

JAKARTA, investor.id -Kinerja PT Vale Indonesia Tbk () pada kuartal II-2025 berakhir mengecewakan. Pendapatan dan laba bersihnya terkoreksi imbas harga nikel yang belum pulih total.
Biarpun kinerjanya mengecewakan, Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan bakal meningkat ke depan, sehingga broker tersebut mempertahankan peringkat hold untuk saham .
Ada tiga alasan utama mengapa saham layak di-hold para investor. Pertama, pemulihan kinerja operasional di kuartal II-2025. Kedua, cash cost Vale yang dinilai terjaga; dan ketiga revisi rencana kerja dan anggaran belanja ( RKAB ) yang sudah memperoleh persetujuan.
 Research Analyst Phintraco Sekuritas Lisya Anxellin menjabarkan, produksi nickel matte pada kuartal II-2025 mencapai 18.557 mt. Angka tersebut naik 8,99% secara kuartalan dan 2,33% secara tahunan setelah sebelumnya produksi nickel matte Vale tertekan 8,10% secara kuartalan.
Peningkatan produksi ini dibarengi dengan volume penjualan yang naik sebesar 5,42% secara qoq menjadi 18.557 mt ketimbang sebelumnya 17,096 mt di kuartal I-2025. Harga jual nickel matte juga tumbuh positif sebesar 1,33% secara kuartalan.
Menurut Lisya, harga jual nickel matte yang mulai membaik mengindikasikan pulihnya harga nikel secara global. Meski demikian, total pendapatan sepanjang semester I-2025 turun 10,86% secara tahunan menjadi US$ 426,74 juta (vs. US$ 478,75 juta di semester I-2024) akibat harga jual rata-rata yang masih tertekan 10,4% bila dikomparasikan secara tahunan.
Harga jual rata-rata nickel matte pada semester I-2025 adalah sebesar US$ 12.014 per ton. Sedangkan, harga jual rata-rata nickel matte pada semester I-2024 sebesar US$ 12.418 per ton.
Kemudian, dilihat dari sisi cash cost atau biaya produksi, Lisya menilai, tetap terjaga kendati biaya produksi meningkat didorong oleh naiknya volume pembelian batu bara dan minyak bakar ( HFSO ). Faktor pendorong kenaikan cash cost juga disebabkan oleh naiknya harga beli diesel yang membuat Vale menurunkan volume pembeli diesel menjadi 16,919 kiloliter.
Alasan terakhir saham layak di-hold adalah RKAB terkait penjualan 2,2 juta ton bijih saprolit dari Blok Bahodopi yang sudah disetujui. Ditambah, proyek HPAL Morowali dan Pomalaa juga diperkirakan beroperasi lebih cepat yaitu pada kuartal akhir 2026 yang akan mengakselerasi produksi MHP Vale sebagai upaya diversifikasi produk.
Berdasarkan katalis positif tersebut, Lisya memandang, pendapatan akan naik paralel dengan ekspansi produk hilir nikel dan efisiensi biaya produksi.
"Kami masih mempertahankan proyeksi dan nilai wajar yang sama pada sebelumnya yaitu Rp 3.560 per saham atau mengekspektasikan 0,82x P/E dan P/BV). Karena itu, merekomendasikan hold untuk ," tulis Lisya dalam riset yang dipublikasi, Jumat (1/8/2025).
Target harga tersebut sudah tembus pada perdagangan hari ini, Jumat (1/8/2025). Saham  finish di posisi 3.560, naik 110 poi (3,19%). Namun secara year-to-date (ytd), saham masih tertekan sebesar 1,66%.
Merujuk pada laporan keuangan (Lapkeu) yang dipublikasi, pendapatan turun dari US$ 478 juta menjadi US$ 426 juta. Beban pokok pendapatan turun dari US$ 417 juta menjadi US$ 396 juta, sehingga laba bruto Vale menyisakan sebesar US$ 30,15 juta.
Setelah dipotong sejumlah, perseroan mencatatkan laba periode berjalan dan laba periode yang berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 25,24 juta, turun dibanding sebelumnya US$ 37,28 juta.
"Kami akan memiliki baseline yang lebih kuat mulai paruh kedua tahun ini. Kami telah mencapai kesepakatan baru untuk penetapan harga nickel matte dengan para pelanggan dan memperoleh persetujuan RKAB sekitar 2,2 juta ton bijih saprolit dari Blok Bahodopi. Perkembangan ini diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak aliran pendapatan dan memperkuat baseline Vale ke depan." jelas Direktur dan Chief Financial Officer Vale Rizky Putra dalam keterangan resmi.

Sumber : investor.id