Reli Saham dan Mata Uang EM Asia Berlanjut, Kesepakatan Damai AS-Iran Tekan Harga Minyak
Monday, June 15, 2026       15:52 WIB
  • Aset  emerging market  Asia menguat setelah kesepakatan damai awal AS-Iran mendorong harga minyak turun di bawah US$80 per barel dan meredakan kekhawatiran inflasi.
  • IHSG melonjak hingga 5,6%, rupiah menguat lebih dari 1%, sementara saham Filipina mencatat kenaikan intraday terbaik sejak 2020.
  • Meski sentimen pasar membaik, analis menilai masih terlalu dini untuk mengharapkan pelonggaran moneter karena risiko inflasi dan geopolitik tetap membayangi.

Ipotnews - Indeks saham dan nilai tukar mata uang negara-negara  emerging market  Asia melanjutkan penguatan hingga menjelang akhir sesi perdagangan hari ini, Senin (15/6). Tercapainya kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran yang menekan harga minyak serta meningkatkan harapan penurunan biaya pinjaman.
Laman Reuters melaporkan, hingga pukul 15:30 WIB, indeks saham  emerging market  Asia versi MSCI melompat 3,1% ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Indeks saham Kospi Korea Selatan dan Taiex Taiwan masing-masing ditutup meloncat 5,2% dan 2,8%.
Kesepakatan sementara AS-Iran mendorong harga minyak mentah turun di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret, sehingga mengurangi tekanan terhadap aset-aset EM yang sebelumnya terdampak tingginya biaya energi.
Perkembangan tersebut juga meningkatkan ekspektasi bahwa harga energi yang lebih rendah dapat meredakan inflasi global dan mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan atau mempertahankan suku bunga pada level tinggi.
"Ini positif bagi aset berisiko, positif bagi mata uang berisiko, dan negatif bagi dolar AS," kata Imre Speizer, analis strategi pasar Westpac, kepada Reuters.
Saham menguat di seluruh kawasan. Indeks saham PSEI Filipina melesat hingga 7%, mencatat kenaikan intraday terbaik sejak akhir Maret 2020.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) sempat meloncat hingga 5,6% ke level tertinggi sejak 21 Mei. Kenaikan ini memperpanjang reli menjadi 19% dalam lima sesi perdagangan sejak Bank Indonesia secara tak terjadwal menaikkan suku bunga pekan lalu.
Saham perbankan menjadi motor penguatan, dengan saham PT Bank Central Asia Tbk (), PT Bank Mandiri Tbk (), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () masing-masing melesat antara 5,6% hingga 6,8%.
Sementara itu, indeks saham STI Singapura dan KLSE Malaysia masing-masing melaju 1,1% dan 0,4%.
Di pasar valuta asing, mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS yang melemah. Rupiah Indonesia naik lebih dari 1% ke level Rp17.680 per dolar AS, posisi terkuat sejak 22 Mei. Won Korea Selatan sempat menguat ke 1.503,9 per dolar sebelum kembali bergerak di sekitar 1.513,3 pada perdagangan sore.
Kesepakatan AS-Iran diperkirakan dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral yang akan menggelar rapat kebijakan moneter pekan ini, karena risiko inflasi akibat tingginya harga energi mulai mereda.
Pelaku pasar masih terpecah mengenai arah kebijakan suku bunga di Indonesia dan Filipina minggu ini, sementara mayoritas memperkirakan bank sentral Taiwan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Ekonom Barclays yang dipimpin Brian Tan menilai tekanan inflasi kemungkinan akan berkurang seiring turunnya harga minyak dunia dan meredanya gangguan pasokan terkait Selat Hormuz. Namun, risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi juga ikut berkurang.
"Hal ini dapat mendorong bank sentral untuk menunda langkah kebijakan dalam jangka pendek dan memberikan lebih banyak waktu untuk menilai perkembangan ekonomi sebelum memperketat kebijakan moneter," tulis mereka dalam sebuah catatan riset.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa tekanan harga akibat perang masih dapat bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka juga mempertanyakan apakah penguatan terbaru mata uang Asia dapat bertahan lama.
"Inflasi kemungkinan tetap berada pada level moderat meski ada tekanan harga dalam beberapa bulan terakhir. Secara keseluruhan, masih terlalu dini untuk berharap bank sentral Asia memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter," kata Jeff Ng, Kepala Strategi Makro Asia SMBC .
Selain itu, investor juga menaruh perhatian pada rapat kebijakan Federal Reserve AS pada 16-17 Juni, yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. (Reuters)
 Asia stock indexes and currencies at 0744 GMT 

COUNTRY

FX RIC

FX DAILY %

FX YTD %

INDEX

STOCKS DAILY %

STOCKS YTD %

Japan

JPY

+0.09

-2.13

N225

4.99

33.73

China

CNY

+0.10

+3.42

SSEC

1.61

3.22

India

INR

+0.49

-5.05

NSEI

1.21

-8.50

Indonesia

IDR

+0.99

-5.77

JKSE

4.42

-27.45

Malaysia

MYR

+0.20

+0.22

KLSE

0.39

0.60

Philippines

PHP

+0.34

-2.73

PSI

6.14

3.63

S.Korea

KRW

+0.33

-4.88

KS11

5.20

102.79

Singapore

SGD

+0.20

+0.32

STI

1.13

9.39

Taiwan

TWD

+0.18

-0.39

TWII

2.78

56.74

Thailand

THB

+0.28

-3.53

SETI

-0.14

26.24


Sumber : admin