Rupiah Ditutup Menguat Karena Ekspektasi Pasar Pada Meredanya Perang Iran
Tuesday, March 10, 2026       15:44 WIB
  • Rupiah ditutup menguat 86 poin ke Rp16.863 per dolar AS pada Selasa (10/3), dari Rp16.949 per dolar AS sehari sebelumnya, didorong ekspektasi meredanya konflik Iran-AS-Israel.
  • Sentimen global membaik setelah Putin dan Trump membahas proposal penyelesaian cepat perang Iran, meski Iran melalui IRGC mengancam menghentikan ekspor minyak jika serangan berlanjut.
  • Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$151,9 miliar pada Februari 2026 dari US$154,6 miliar pada Januari, namun BI menilai level tersebut masih aman.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (10/3), seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat segera mereda.
Berdasarkan data Bloomberg pada sore ini pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup menguat 86 poin ke level Rp16.863 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Senin sore (9/3) di posisi Rp16.949 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu oleh berkembangnya harapan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda.
Ia menjelaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas penyelesaian konflik tersebut.
"Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, menurut seorang ajudan Kremlin, meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Selain itu, Trump juga memberikan sinyal bahwa konflik tersebut kemungkinan tidak berlangsung lama. "Trump mengatakan pada hari Senin dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa ia berpikir perang melawan Iran 'sangat lengkap' dan bahwa Washington 'jauh lebih maju' dari perkiraan jangka waktu awalnya selama empat hingga lima minggu," ujar Ibrahim.
Namun demikian, ketegangan masih tetap membayangi pasar setelah Iran memberikan respons keras terhadap pernyataan tersebut. Sebagai tanggapan terhadap Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran ( IRGC ) mengatakan mereka akan yang menentukan akhir perang,' dan Teheran tidak akan mengizinkan 'satu liter minyak pun' diekspor dari wilayah tersebut jika serangan AS dan Israel berlanjut, media pemerintah melaporkan pada hari Selasa, mengutip juru bicara IRGC .
Di sisi lain, harga minyak global masih berada di bawah tekanan karena pemerintah AS mempertimbangkan sejumlah opsi untuk menahan kenaikan harga energi.
"Namun, harga tetap berada di bawah tekanan karena Trump mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat sebagai bagian dari serangkaian opsi yang bertujuan untuk menekan lonjakan harga minyak global, menurut beberapa sumber," jelas Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, negara-negara G7 juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah guna merespons lonjakan harga minyak, meskipun tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih dibayangi oleh kondisi cadangan devisa yang mengalami penurunan. Cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$151,9 miliar, turun dibandingkan posisi Januari 2026 yang mencapai US$154,6 miliar.
Bank Indonesia menyebut penyusutan cadangan devisa terjadi akibat intervensi moneter yang dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Meski demikian, bank sentral memastikan level cadangan devisa tersebut masih berada pada posisi aman, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
BI juga menilai posisi cadangan devisa masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, didukung oleh prospek perekonomian nasional yang positif dan daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia.(Adhitya/AI)

Sumber : admin