Saham dan Dolar Jatuh, Emas "Rebound" Dekati Level Tertinggi Lima Bulan
Friday, December 07, 2018       04:27 WIB

Ipotnews - Emas rebound ke dekat level tertinggi lima bulan, Kamis, karena dolar melemah di tengah ekspektasi perlambatan laju kenaikan suku bunga Amerika, dengan investor mencari perlindungan dari aksi jual saham global.
Harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi USD1.241,15 per ounce pada pukul 01.01 WIB, setelah mencapai USD1.244,32 per ounce, tertinggi sejak 17 Juli, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Kamis (6/12) atau Jumat (7/12) dini hari WIB. Emas berjangka Amerika Serikat ditutup menguat satu dolar menjadi USD1.243,60 per ounce.
"Apa yang kita lihat adalah banyak dukungan safe-haven dengan pasar saham tertekan aksi jual, ditambah pelemahan dolar AS," kata Alex Turro, analis RJO Futures.
"Klaim pengangguran tercatat lebih lemah dari perkiraan dan angka ADP gagal melampaui ekspektasi. Itu membawa kita pada fakta bahwa Federal Reserve mungkin meninggalkan nada hawkish yang mereka miliki dan ini pada akhirnya hanya akan memberikan dukungan untuk emas."
Perhatian beralih ke laporan penggajian non-pertanian Amerika, Jumat waktu setempat, yang kemungkinan berada di radar Federal Reserve.
Dolar anjlok sekitar satu setengah persen karena imbal hasil US Treasury merosot dan pedagang menurunkan ekspektasi tentang jumlah kenaikan suku bunga yang akan diimplementasikan The Fed di tengah melemahnya data ekonomi dan volatilitas pasar.
"Depresiasi dolar mempertahankan emas tetap positif pada saat ini. Jika kita melihat pasar lainnya, ada semacam situasi risk-off yang sedang terjadi," ucap Phil Streible, analis RJO Futures di Chicago.
Pasar saham global merosot untuk hari ketiga, Kamis, karena penangkapan petinggi raksasa teknologi China, Huawei, di Kanada untuk diekstradisi ke Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran akan ketegangan perdagangan.
Sementara itu, palladium merosot setelah mengungguli logam kuning itu untuk kali pertama sejak 2002 pada sesi Rabu.
Harga palladium di pasar spot anjlok 3,90 persen menjadi USD1.194,50 per ounce setelah melesat ke level tertinggi sepanjang masa USD1.263,56 per ounce di sesi sebelumnya.
"Itu hanya profit taking. Banyak dana telah pindah ke sana sehingga investor mengambil beberapa keuntungan," ucap Rob Lutts, Kepala Investasi Cabot Wealth Management.
Perak turun 0,51 persen menjadi USD14,43 per ounce, sedangkan platinum memperpanjang kerugian ke sesi ketiga, menyusut 1,54 persen menjadi USD788,10 per ounce. Logam itu sebelumnya menembus USD779,50, posisi terendah sejak 12 September. (ef)

Sumber : Admin