Sederet Aksi Korporasi Barito Pacific (BRPT), Ada IPO Anak Usaha
Thursday, July 17, 2025       18:30 WIB

JAKARTA, investor.id- PT Barito Pacific Tbk () tengah gencar melakukan berbagai aksi korporasi strategis sepanjang 2024 sampai 2025 ini.
Mulai dari pengembangan unit usaha energi terbarukan, aksi korporasi anak usaha di bursa saham, hingga ekspansi bisnis petrokimia di tingkat regional, seluruh langkah tersebut dilakukan Barito Pacific dalam memperkuat portofolio dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Beberapa terobosan datang dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (), anak usaha yang bergerak di sektor petrokimia.
melalui entitas usaha patungan (joint venture) dengan Glencore, yakni CAPGC Pte. Ltd., telah menyelesaikan akuisisi fasilitas kilang dan pabrik petrokimia milik Shell di Bukom dan Jurong Island, Singapura. Fasilitas ini meliputi kilang minyak berkapasitas 237.000 barel per hari dan pabrik steam cracker sebesar 1 juta ton per tahun.
Masih di sektor kimia dan infrastruktur, PT Chandra Daya Investasi Tbk (), entitas anak dari Chandra Asri Group, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2025.
IPO disambut antusias oleh pasar dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) lebih dari 500 kali, dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp2,37 triliun. Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperluas investasi di bidang infrastruktur kelistrikan, logistik, air bersih, dan pelabuhan industri, terutama di kawasan industri Cilegon, Banten.
Direktur Keuangan PT Barito Pacific Tbk, David Kosasih, mengatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi bisnis yang dilakukan secara terukur. "Hal ini merupakan peluang untuk memperkuat perkembangan infrastruktur di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (17/7/2025).
"Kami berterima kasih atas antusiasme para investor, dan atas kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan dan juga kepada segenap anak usaha," sambung David.

Sementara itu, dari lini energi baru dan terbarukan, Barito Pacific melalui anak usaha PT Barito Renewables Energy Tbk (), juga menunjukkan langkah progresif dalam memperluas kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola oleh Star Energy Geothermal. Total lima proyek ekspansi dan retrofitting tengah dijalankan dengan investasi sebesar USD365 juta.
Tiga proyek ekspansi tersebut mencakup pembangunan Salak Unit 7 (40 MW), Wayang Windu Unit 3 (30 MW), dan Salak Binary (16,6 MW) yang telah mulai beroperasi sejak Februari 2025. Sedangkan dua proyek retrofitting dilakukan di Salak Unit 4, 5, dan 6 (7,2 MW), serta Wayang Windu Unit 1 dan 2 (18,4 MW). Seluruh proyek ini ditargetkan rampung secara bertahap mulai Agustus 2025 hingga Desember 2026.
"Kami berkomitmen untuk mendukung transisi energi Indonesia melalui peningkatan kapasitas geothermal, dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan. Kami juga berharap langkah ini dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata David.
Langkah strategis tersebut turut diperkuat dengan komitmen pendanaan hijau. Star Energy Geothermal mengamankan fasilitas pinjaman hijau senilai USD121 juta dari ban DBS Bank Ltd dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation ( SMBC ) untuk mendukung proyek-proyek geothermal di Salak dan Darajat.
Dengan serangkaian aksi korporasi tersebut, Barito Pacific dinilai tengah memperkuat fondasi bisnisnya di tiga sektor kunci: petrokimia, infrastruktur energi, dan energi baru terbarukan. Strategi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri dan transisi energi.

Sumber : investor.id