Sehari Jelang Perdagangan HMETD, Saham SINI ARB ke Level 7.125
Monday, July 13, 2026       15:47 WIB
  • Saham anjlok 9,81% menjelang pelaksanaan rights issue Rp3,61 triliun.
  • Rights issue berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 60%.
  • berpeluang memperbesar kepemilikan melalui HMETD.

Ipotnews - Sehari menjelang pelaksanaan rights issue atau perdagangan HMETD, hari ini saham PT Singaraja Putra Tbk () mengalami auto-rejection bawah (ARB) atau merosot 9,81 persen ke posisi 7.125 dari penutupan Jumat (10/7) di level 7.900.
Pada perdagangan Senin (13/7), saham yang saat ini berada di Papan Pemantauan Khusus dibuka melorot 6,76 persen ke posisi 7.400, namun sesaat kemudian jatuh ke batas ARB 7.125. Nilai transaksi tercatat Rp16 miliar dan volume transaksi sebanyak 2,23 juta saham, dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) senilai Rp3,42 triliun.
Kejatuhan harga saham terjadi sehari sebelum pelaksanaan dan perdagangan HMETD terkait rencana rights issue dengan nilai emisi sebesar Rp3,61 triliun. Pada aksi korporasi ini, perseroan akan menerbitkan maksimal 721,5 juta saham biasa atas bernilai nominal Rp100 per lembar atau setara 60 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.
Pada pelaksanaan PM-HMETD ini, setiap pemegang dua saham lama berhak atas tiga HMETD, sedangkan setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru seharga Rp5.000 per lembar.
Mengacu pada prospektus , pencatatan HMETD di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 14 Juli 2026, sedangkan periode pelaksanaan dan perdagangan HMETD pada 14-20 Juli 2026. Adapun periode pendistribusian saham yang berasal dari HMETD pada 15-21 Juli 2026.
Sekadar mengingatkan, bagi pemegang saham yang tidak menebus HMETD akan mengalami penurunan persentase kepemilikan atau dilusi hingga maksimal 60 persen. Dalam prospektus juga menunjukkan bahwa sejumlah pemegang saham utama tidak melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya.
PT Autum Prima Indonesia (API) selaku pemegang saham utama dengan kepemilikan 30 persen hanya akan melaksanakan 60 juta HMETD dari total hak sebanyak 216,45 juta HMETD. Sisanya akan dialihkan kepada PT Deli Indonesia Raya (DIR), PT Henan Putihrai Sekuritas (HPS) dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk ().
Batubara Development Pte Ltd (BBD) yang menguasai 15,49 persen saham menyatakan tidak akan melaksanakan seluruh HMETD miliknya dan mengalihkan seluruh haknya tersebut kepada Ever Grace International Trading Limited dan DIR.
Sementara itu, Hapsoro Sukmonohadi (Happy Hapsoro) yang memiliki 9 persen saham juga menyatakan tidak akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya dan mengalihkan sebagian hak kepada .
PT Kreasi Jasa Persada (KJP) selaku pemegang 19,74 persen saham akan mengalihkan seluruh HMETD miliknya kepada PT Petrosea Tbk (). Masuknya emiten milik taipan Prajogo Pangestu ini sebagai penerima pengalihan HMETD dan sekaligus menjadi pembeli siaga bisa mengubah komposisi kepemilikan saham secara signifikan.
Dalam simulasi struktur permodalan setelah PM-HMETD I, kepemilikan berpotensi meningkat dari 0,25 persen menjadi 21,76 persen apabila seluruh skenario pelaksanaan HMETD berjalan sesuai rencana.
Sebaliknya, kepemilikan API akan menurun dari 30 persen menjadi 16,99 persen, BBD dari 15,49 persen menjadi 6,2 persen, Happy Hapsoro dari 9 persen menjadi 3,6 persen, sedangkan KJP akan menurun dari 19,74 persen menjadi 7,9 persen. Manajemen menegaskan, pelaksanaan rights issue ini tidak mengakibatkan perubahan pengendali.
Guna memastikan seluruh saham baru terserap, sudah menyatakan komitmennya sebagai pembeli siaga dengan membeli sisa saham baru hingga maksimal 116,18 juta saham. Jika setelah itu masih ada sisa saham baru yang tidak diambil, maka HPS dan akan bertindak sebagai pembeli siaga lainnya secara proporsional sesuai porsi komitmennya masing-masing. (Budi/AI)

Sumber : Admin