Selat Hormuz Masih Jadi Ancaman, Harga Brent Kembali Tembus US$83
Saturday, August 08, 2026       07:21 WIB
  • Harga Brent naik 1,3% menjadi US$83,55 per barel dan WTI menguat 1,15% menjadi US$78,18, meski keduanya masih berada di jalur penurunan mingguan.
  • Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena jalur tersebut sebelumnya membawa sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
  • Perbedaan biaya lintas selat antara Iran, Oman, dan AS serta sanksi AS membuat kesepakatan pembukaan Selat Hormuz masih sulit diwujudkan.

Ipotnews - Minyak mentah Brent naik lebih dari US$1 per barel pada Jumat (7/8) pada akhir pekan ini di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung mengenai negosiasi yang menentukan penguasaan dan pembukaan kembali jalur pelayaran utama di Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di US$83,55 per barel, naik US$1,06 atau 1,3%. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$78,18 per barel, naik 89 sen atau 1,15%.
Harga minyak berjangka ditutup lebih dari US$3 per barel lebih tinggi pada Kamis setelah Iran mengkaji rancangan undang-undang untuk melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz, yang sebelum perang dimulai pada akhir Februari menjadi jalur sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair.
Harga minyak sempat turun pada awal pekan setelah kemungkinan penyelesaian konflik terlihat semakin besar. Kondisi tersebut merupakan bagian dari pola yang berulang sejak Amerika Serikat dan Israel secara bersama-sama menyerang Iran pada akhir Februari, yang memicu konflik yang kini telah berlangsung selama enam bulan. Brent berada di jalur penurunan lebih dari 8% sepanjang pekan, sedangkan WTI turun lebih dari 7%.
Meskipun sinyal mengenai potensi kesepakatan pada pekan ini telah membuat sentimen pasar bergerak seperti roller coaster, pasar masih belum mengetahui dengan jelas apa yang harus terjadi agar kesepakatan tersebut dapat tercapai, kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights.
"Pasar sedang mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman akan memungkinkan kapal berbendera AS melintasi Selat Hormuz," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates. "Apakah kapal milik AS akan diizinkan melintas? Apakah kapal yang menuju pelabuhan AS akan diizinkan melintas?"
Iran dan Oman disebut telah menyepakati rute yang akan dilalui kapal-kapal melalui selat tersebut, yang terletak di antara kedua negara. Namun, belum jelas apakah AS akan menyetujui ketentuan tersebut.
Para analis juga mengatakan perkembangan pada pekan ini menunjukkan bahwa permusuhan antara Iran dan AS belum berakhir.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan Iran meminta biaya sebesar 5% hingga 7% dari harga kargo kepada kapal-kapal yang menggunakan selat tersebut. Sementara itu, Oman sedang membahas biaya sekitar 3%. Sedangkan Washington menginginkan tidak ada biaya sama sekali.
"Semakin lama gangguan pasokan berlangsung, semakin lama pula cadangan komersial dunia terus terkuras," katanya.
Empat sumber industri mengatakan kesepakatan yang diusulkan tidak mudah diterapkan karena adanya sanksi AS dan klausul asuransi yang membatasi pembayaran.
"Struktur kesepakatan Iran-Oman dalam bentuknya saat ini dan kekuasaan yang diberikannya kepada Iran bukan sesuatu yang dapat diterima (Presiden AS Donald) Trump secara politik," kata Bjarne Schieldrop dari SEB Research. "Trump akan menghadapi kritik politik yang berat di dalam negeri jika dia melakukannya."
"Kita membutuhkan selat tersebut untuk dibuka kembali sepenuhnya," kata John Kilduff, partner di Again Capital. Ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai hasil perang dan kapan perang tersebut akan berakhir membuat para pedagang sangat cemas, kata Kilduff.
(reuters)

Sumber : admin