- Rupiah ditutup melemah 0,24% ke Rp18.109 per dolar AS seiring penguatan dolar akibat kembali memanasnya konflik AS-Iran dan ancaman terhadap Selat Hormuz.
- Eskalasi di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak, kenaikan inflasi global, dan memperkuat ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
- Sentimen domestik turut tertekan oleh dugaan mega korupsi dan konflik antaraparat penegak hukum yang dinilai menggerus kepastian hukum serta kepercayaan investor.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang perdagangan Senin (13/7) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul kembali terjadinya saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu penguatan dolar serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi dan inflasi global.
Mengutip data Bloomberg, pada pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 44 poin atau 0,24% ke level Rp18.109 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Jumat (10/7) di posisi Rp18.065 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS dipicu oleh kembali memanasnya konflik di Timur Tengah setelah pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan.
"Pasukan AS dan Iran telah saling melancarkan serangan rudal dan drone berat, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz yang vital," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Menurutnya, eskalasi terbaru tersebut kembali memunculkan keraguan terhadap keberlangsungan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik melalui proses negosiasi.
Ia menjelaskan, gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia karena jalur tersebut merupakan rute utama ekspor minyak mentah dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lainnya. Kondisi itu dikhawatirkan mendorong kenaikan biaya pengiriman, premi asuransi, serta memperkuat tekanan inflasi global.
"Prospek kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan guncangan inflasi lainnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama," ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, risalah rapat Federal Reserve bulan Juni menunjukkan sebagian pejabat bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga, sementara mayoritas tetap mencermati risiko inflasi menjelang pertemuan FOMC pada 28-29 Juli.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar juga memberikan respons negatif terhadap berkembangnya dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, serta konflik antaraparat penegak hukum yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi.
"Dengan hukum yang hancur seperti ini, maka tidak ada lagi kepastian hukum dan secara otomatis kepercayaan investor jatuh. Ditambah kebijakan tidak pro pasar, yang menyebabkan terjadinya 'vote of no confidence' yang akan menghambat perekonomian," ucap Ibrahim.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menghambat target pertumbuhan ekonomi nasional karena kepastian hukum merupakan salah satu faktor utama yang menentukan perilaku ekonomi, efisiensi usaha, investasi, dan inovasi.
"Presiden Prabowo Subianto mendapat ujian yang berat dalam masalah hukum dan dampaknya terhadap ekonomi," tambah Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin