Stok Amerika Melesat, Harga Minyak Dunia Tertekan
Wednesday, May 15, 2019       14:28 WIB

Ipotnews - Minyak melemah, Rabu siang, setelah data menunjukkan peningkatan stok minyak AS dan output industri China tumbuh di bawah ekspektasi pada periode April. Meski begitu, harga didukung oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, berada di posisi USD71,06 per barel pada pukul 13.46 WIB, turun 18 sen, atau 0,3 persen dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Rabu (15/5). Brent ditutup melonjak 1,4 persen pada sesi Selasa.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 45 sen atau 0,7 persen menjadi USD61,33 per barel. WTI ditutup melambung 1,2 persen di sesi sebelumnya.
Stok minyak mentah AS di luar dugaan mengalami peningkatan, pekan lalu, kendati persediaan bensin dan produk penyulingan naik, menurut data kelompok industri American Petroleum Institute, Selasa.
Persediaan minyak mentah melesat 8,6 juta barel dalam pekan hingga 10 Mei menjadi 477,8 juta, dibandingkan ekspektasi analis untuk penurunan 800.000 barel.
Stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, pusat pengiriman melejit 2,1 juta barel, menurut API.
Badan Informasi Energi (EIA), Departemen Energi AS, akan melaporkan data resmi stok Amerika, Rabu.
"Jika laporan EIA mengonfirmasi peningkatan yang kuat, kita bisa melihat itu membebani harga minyak...tetapi banyaknya risiko geopolitik membuat harga tetap didukung," kata Edward Moya, analis OANDA.
Harga minyak mendapat dukungan setelah Arab Saudi, Selasa, mengatakan drone bersenjata menghantam dua stasiun pompa minyaknya, dua hari setelah sabotase tanker minyak di dekat Uni Emirat Arab, sementara militer Amerika mengatakan siap untuk "kemungkinan ancaman yang akan segera terjadi pada pasukan AS di Irak "dari pasukan yang didukung Iran.
Serangan itu terjadi dengan latar belakang ketegangan AS-Iran menyusul keputusan Washington bulan ini untuk mencoba memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol, dan meningkatkan kehadiran militernya di Teluk dalam menanggapi apa yang dikatakannya sebagai ancaman Iran.
Sementara itu, Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), Selasa, mengatakan permintaan dunia terhadap minyaknya akan lebih tinggi dari ekspektasi pada tahun ini, karena pertumbuhan pasokan dari saingannya, termasuk produsen shale-oil AS melambat. Itu menunjuk ke pasar yang lebih ketat jika kartel eksportir tersebut menahan diri untuk tidak meningkatkan output.
Di tempat lain, pertumbuhan output industri China melambat lebih dari perkiraan menjadi 5,4 persen pada April, dari level tertinggi empat setengah tahun di Maret, memperkuat pandangan bahwa Beijing harus mengeluarkan lebih banyak langkah stimulus saat perang perdagangan dengan Amerika Serikat meningkat.
Selasa, Presiden Donald Trump menyebut perang dagang dengan China hanyalah "pertengkaran kecil" dan menegaskan perundingan antara dua ekonomi terbesar dunia itu belum hancur. (ef)

Sumber : Admin