Stok Amerika Membengkak, Reli Minyak Dua Sesi Beruntun Terhenti
Wednesday, September 16, 2026       12:55 WIB
  • Brent turun 0,65% ke USD108,04; WTI -1,07% ke USD104,70.
  • Stok minyak AS melonjak 7,1 juta barel, melampaui ekspektasi.
  • Gangguan Timur Tengah masih menopang harga minyak.

Ipotnews - Harga minyak melorot, Rabu, terkoreksi setelah reli dua hari, setelah persediaan minyak mentah Amerika meningkat jauh lebih besar dari perkiraan, meski gangguan pasokan di Timur Tengah masih berlangsung.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 71 sen atau 0,65% menjadi USD108,04 per barel pada pukul 12.38 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Singapura, Rabu (16/9).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melemah USD1,13 atau 1,07% menjadi USD104,70 per barel.
Kedua kontrak acuan tersebut ditutup melambung lebih dari USD3 per barel, Selasa, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 19 Mei. Kenaikan dipicu penghentian sementara aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu serta keputusan Arab Saudi memangkas pengiriman ke Eropa yang memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan global.
Tekanan terhadap harga minyak siang ini terutama berasal dari data persediaan minyak Amerika. Sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) mengatakan stok minyak mentah, bensin, dan produk sulingan AS seluruhnya melompat sepanjang pekan lalu.
Persediaan minyak mentah Amerika melonjak 7,1 juta barel dalam pekan yang berakhir 11 September. Angka tersebut jauh di atas ekspektasi analis dalam jajak pendapat  Reuters  yang memperkirakan persediaan justru turun sekitar 1,6 juta barel.
Data API juga menunjukkan kenaikan tak terduga pada persediaan bensin dan diesel. Haitong Futures mengatakan peningkatan stok produk olahan tersebut memberikan tekanan terhadap harga minyak. Namun, kenaikan persediaan di sejumlah kawasan dinilai tidak mengubah kondisi mendasar pasar minyak mentah global yang masih ketat.
Di tengah tekanan dari data persediaan Amerika, harga minyak masih relatif bertahan karena perhatian pelaku pasar tertuju pada gangguan pasokan fisik di Timur Tengah.
Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights Phillip Nova, mengatakan ketahanan harga minyak memperlihatkan bahwa pasar masih mengkhawatirkan gangguan terhadap pasokan aktual.
"Perhatian terbesar tetap tertuju pada gangguan pipa East-West Arab Saudi dan infrastruktur ekspor Yanbu setelah serangan terhadap fasilitas energi Saudi," ujar Sachdeva.
Tekanan terhadap pasokan juga tercermin di pasar produk olahan. Harga kontrak berjangka diesel Eropa mencatat rekor tertinggi, Selasa, menegaskan semakin ketatnya pasar bahan bakar akibat gangguan di Timur Tengah yang membatasi aliran minyak mentah dan produk olahan.
Sumber pasar mengatakan pada Selasa bahwa aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu Arab Saudi dihentikan setelah negara eksportir minyak mentah terbesar dunia itu menutup pipa East-West. Penutupan dilakukan setelah serangan pada Jumat oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran.
Pipa East-West merupakan infrastruktur penting yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi dengan fasilitas ekspor di kawasan Laut Merah.
Saudi kini menawarkan lebih banyak pemuatan minyak mentah kepada penyuling di Asia melalui transfer antarkapal di lepas pantai Sohar, Oman. Langkah tersebut dilakukan setelah serangan drone merusak pipa minyak utama Saudi menuju Laut Merah, menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Gangguan juga terjadi di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Data pelayaran awal yang dirilis Rabu menunjukkan jumlah kapal yang terlihat melintas di selat tersebut hanya empat kapal, Selasa, turun dari tujuh kapal sehari sebelumnya.
Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 18 kapal. Penurunan lalu lintas kapal terjadi setelah intensitas serangan di kawasan Timur Tengah meningkat.
Sebelum perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dimulai, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan terhadap lalu lintas di jalur tersebut berpotensi semakin memperketat pasokan energi global dan menjaga risiko kenaikan harga minyak tetap tinggi. (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin