Stok BBM China Menyusut, Risiko Pembatasan Ekspor Kembali Meningkat
Wednesday, September 16, 2026       11:12 WIB
  • Persediaan bensin China turun 2,9% pekan lalu ke level terendah sejak 2022, sementara stok diesel merosot 2,4% ke level terendah dalam 15 bulan.
  • Kondisi pasar domestik yang mengetat meningkatkan potensi Beijing kembali membatasi ekspor produk BBM hingga sekitar 1,2 juta ton per bulan pada kuartal IV 2026.
  • Kilang independen China menghadapi kesulitan memperoleh minyak mentah Iran, sehingga harus mencari pasokan alternatif dari Afrika dan Amerika Latin dengan harga premium.

Ipotnews - Persediaan bensin dan diesel China terus menyusut seiring mengetatnya pasar domestik, meningkatkan risiko pemerintah kembali membatasi ekspor produk bahan bakar minyak (BBM).
Data JLC International menunjukkan stok bensin pada perusahaan pemasok BBM milik negara turun 2,9% pada pekan lalu, mencapai level terendah sejak 2022. Sementara itu, persediaan diesel merosot 2,4% ke level terendah dalam 15 bulan.
Penurunan stok tersebut membuat pelaku perdagangan China mulai melihat semakin sedikit penawaran diesel di pasar domestik. Sejumlah pelaku pasar juga cenderung menahan pasokan untuk dijual pada periode berikutnya.
China sebelumnya bergerak cepat membatasi ekspor produk minyak pada awal perang AS-Iran. Kebijakan tersebut mengurangi pasokan BBM bagi pembeli di Asia, sekaligus membantu menahan tekanan terhadap harga minyak mentah global.
Namun, pembatasan kemudian dilonggarkan. Data bea cukai China menunjukkan ekspor gabungan bensin, diesel, dan bahan bakar jet atau clean products telah pulih menjadi 2,55 juta ton pada Juli.
Analis Energy Aspects Jianan Sun mengatakan, dengan kondisi pasar domestik yang semakin ketat, terdapat risiko Beijing kembali membatasi ekspor clean products menjadi sekitar 1,2 juta ton per bulan pada kuartal IV 2026.
Pemerintah China memang mengontrol ketat volume ekspor BBM yang dapat dilakukan kilang. Kenaikan ekspor sebelumnya diberikan dengan syarat perusahaan mempertahankan persediaan pada level yang tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, pasokan minyak melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah level sebelum perang. Penutupan pipa East-West Arab Saudi serta perkembangan konflik di Yaman juga menambah risiko terhadap pengiriman minyak melalui Laut Merah.
Kilang independen China, yang dikenal sebagai teapots, turut menghadapi tekanan setelah kehilangan akses terhadap minyak mentah Iran akibat blokade AS.
Kondisi tersebut mendorong pembeli China mencari sumber minyak alternatif dari Afrika dan Amerika Latin, sehingga meningkatkan premi harga minyak dari kawasan tersebut.
Tekanan terhadap kilang independen semakin besar dan berpotensi memaksa mereka memangkas tingkat operasi dalam beberapa pekan mendatang.
JLC International, konsultan industri asal China, mengumpulkan data persediaan secara langsung dari perusahaan pemasaran regional milik perusahaan minyak besar di berbagai provinsi. Pemerintah China sendiri tidak menerbitkan data resmi mengenai tingkat persediaan BBM.
Perkembangan lainnya
Bloomberg Intelligence memperkirakan ekspansi jaringan kereta api di Xinjiang akan meningkatkan kapasitas pengiriman batu bara keluar wilayah tersebut hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 300 juta ton pada 2027. Kondisi ini berpotensi menggeser harga marginal batu bara termal China ke pasokan domestik yang lebih murah dan mengurangi ketergantungan terhadap impor melalui jalur laut.
Sementara itu, AS dan China tengah membahas kemungkinan pemangkasan tarif untuk sejumlah barang, termasuk pengiriman energi dan produk pertanian AS. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator bahwa pertemuan para pemimpin kedua negara pekan depan dapat menghasilkan perpanjangan gencatan perdagangan selama satu tahun.
Di sektor baja, asosiasi industri besi dan baja terbesar China menyerukan produsen domestik menekan produksi dan mengurangi persediaan. Langkah tersebut diperlukan di tengah kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan yang terus menekan pasar.(Reuters)

Sumber : Admin