Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat Jelang Data Inflasi AS
Tuesday, July 14, 2026       10:06 WIB
  • Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli melonjak menjadi sekitar 50%, dari kurang dari 10% sebelumnya, menjelang rilis data inflasi AS.
  • Pernyataan pejabat The Fed dan lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi akan tetap tinggi sehingga suku bunga mungkin perlu dinaikkan.
  • Pasar kini menantikan data CPI dan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh yang diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Ipotnews - Pelaku pasar obligasi semakin meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Juli, menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan kesaksian Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres yang dinilai dapat memperkuat alasan bagi bank sentral untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tercermin dari pasar opsi suku bunga, di mana probabilitas kenaikan 25 basis poin pada Juli melonjak menjadi sekitar 50%, dibandingkan kurang dari 10% beberapa waktu lalu.
Sinyal serupa juga terlihat di pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) Treasury tenor dua tahun, yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan, bertahan di atas 4,25%, semakin jauh melampaui level suku bunga kebijakan The Fed.
Manajer portofolio Columbia Threadneedle, Ed Al-Hussainy, menilai peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini lebih besar dibandingkan peluang mempertahankan suku bunga.
"Pertemuan Juli benar-benar terbuka untuk kenaikan suku bunga. Meski inflasi yang menjadi acuan The Fed sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi konsumen pada Mei, kita masih membutuhkan keberuntungan agar inflasi bisa kembali ke target 2%," ujarnya.
Ekspektasi tersebut menguat setelah Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pejabat paling dovish, menyatakan kenaikan suku bunga "dalam waktu dekat" layak dipertimbangkan apabila data inflasi inti kembali menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pasar kini menanti data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juni yang akan dirilis Selasa waktu Washington. Berdasarkan survei Bloomberg, inflasi tahunan diperkirakan melambat menjadi 3,8% dari 4,2% pada Mei, sementara inflasi inti diperkirakan turun menjadi 2,8% dari 2,9%.
Secara bulanan, indeks harga konsumen diproyeksikan turun 0,1%, sedangkan inflasi inti diperkirakan naik 0,2% dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski inflasi diperkirakan melandai, banyak investor obligasi menilai penurunan tersebut belum cukup untuk membawa inflasi kembali menuju target 2% The Fed. Kekhawatiran semakin meningkat setelah harga minyak dunia kembali naik akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, menyusul rencana militer AS melanjutkan blokade terhadap lalu lintas menuju pelabuhan Iran serta pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut.
Pelaku pasar juga menaruh perhatian besar pada kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres pada 14-15 Juli. Warsh dikenal enggan memberikan panduan (forward guidance) mengenai arah kebijakan moneter, sehingga pernyataannya diperkirakan akan menjadi petunjuk penting menjelang rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) pada 29 Juli.
Saat ini, pasar suku bunga jangka pendek telah sepenuhnya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 dan kenaikan kedua pada pertengahan 2027. Namun menurut Al-Hussainy, langkah tersebut kemungkinan masih belum cukup.
Ia memperkirakan The Fed pada akhirnya akan membatalkan seluruh tiga kali penurunan suku bunga masing-masing 25 basis poin yang dilakukan pada empat bulan terakhir 2025 ketika pasar tenaga kerja mulai melemah.
Taruhan kenaikan suku bunga juga terlihat di pasar kontrak berjangka federal funds, dengan posisi terbuka (open interest) kontrak Agustus meningkat sekitar 23% sepanjang Juli, menunjukkan semakin banyak investor yang bersiap menghadapi kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kepala Strategi Suku Bunga AS BMO Capital Markets, Ian Lyngen, mengatakan perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada rapat FOMC akhir Juli sebagai momentum yang berpotensi menjadi kenaikan suku bunga pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Meski ia memperkirakan keyakinan pasar terhadap kenaikan suku bunga Juli dapat sedikit berkurang apabila data inflasi Juni lebih lemah dari perkiraan atau jika kesaksian Warsh bernada lebih hati-hati, pasar kemungkinan tetap akan mempertahankan sebagian peluang kenaikan suku bunga.
Menurut Lyngen, bahkan apabila inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed masih berpeluang mengejutkan pasar dengan tetap menaikkan suku bunga apabila menilai risiko inflasi masih terlalu tinggi.(Bloomberg)

Sumber : Admin