Tensi Perang Dagang Meningkat, Dolar Tembus Level Tertinggi 13 Bulan
Friday, August 10, 2018       13:52 WIB

Ipotnews - Dolar AS melesat ke level tertinggi 13 bulan terhadap sekeranjang mata uang, Jumat petang, dan yen juga membuat langkah besar, dengan selera investor untuk risiko menurun di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global dan perselisihan diplomatik.
Euro jatuh ke posisi terlemah sejak Juli 2017, sementara poundsterling turun ke tingkat terendah dalam setahun di tengah spekulasi Inggris akan meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan mengenai hubungan masa depannya dengan Brussels.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik lebih dari 0,6 persen menjadi 96,103, tertinggi sejak Juli 2017, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Jumat (10/8).
Dolar didorong oleh meningkatnya ketegangan perdagangan global dan hubungan geopolitik, dengan Amerika Serikat pekan ini mengatakan akan memberlakukan sanksi baru terhadap Moskow. Washington juga terlibat dalam perseteruan diplomatik dengan Turki.
Rusia akan menganggapnya sebagai perang ekonomi jika Amerika memberlakukan larangan terhadap perbankan atau mata uang tertentu, tutur Perdana Menteri Dmitry Medvedev, Jumat, seperti dilansir kantor berita TASS .
"Ada beragam ketidakpastian dan kekhawatiran di pasar saat ini, dengan perseteruan Amerika-China sudah memanas, tetapi kekhawatiran atas Uni Eropa, Inggris dan Turki juga ada," kata Bart Wakabayashi, Manajer Cabang untuk State Street Bank and Trust di Tokyo.
"Dan di tengah semua ini, yen tiba-tiba kembali digemari sebagai safe-haven. Dolar dan yen berfungsi sebagai safe-haven pada saat bersamaan."
Dengan dolar terlihat menyerap arus safe-haven, penguatan yen terhadap greenback relatif terbatas. Mata uang Jepang itu, bagaimanapun, menguat terhadap mata uang lain seperti euro, pound dan dolar Australia.
Euro turun 0,75 persen menjadi 127,13 yen, pound melemah 0,25 persen menjadi 142,03 yen dan Aussie merosot 0,85 persen jadi 81,29 yen.
Lira Turki mencapai titik terendah sepanjang masa di posisi 6,49 setelah pertemuan sehari sebelumnya antara delegasi Turki dan pejabat Amerika di Washington tidak menghasilkan solusi yang jelas terhadap keretakan diplomatik atas penahanan pendeta AS di Turki.
"Bahkan dalam hal yang tidak mungkin bahwa Turki menyelesaikan pertikaian diplomatiknya dengan Amerika Serikat, kekhawatiran kejatuhan terhadap lira tidak akan mudah," ucap Takahiko Sasaki, ekonom Mizuho Bank.
Turki dibebani dengan beban utang luar negeri jangka pendek yang menggunung, defisit neraca transaksi berjalan yang tinggi dan peningkatan inflasi, papar Sasaki.
Sementara itu, pound merosot 1,55 persen pekan ini di tengah kekhawatiran tentang apa yang disebut 'hard' Brexit.
Sterling turun sekitar 0,2 persen menjadi USD1,2830 pada Jumat petang, melampaui level terendah satu tahun USD1,2798. Euro turun 0,6 persen menjadi USD1,1438, terlemah sejak Juli 2017.
Mata uang tunggal itu mengalami tekanan hebat tadi malam, penurunannya semakin cepat setelah Bank Sentral Eropa mengatakan risiko terhadap pertumbuhan global meningkat karena risiko proteksionisme dan ancaman tarif Amerika yang lebih tinggi.
Euro anjlok hampir 1 persen sepanjang pekan ini, terhambat oleh kekhawatiran investor bahwa Italia bergerak menuju APBN yang tidak berkelanjutan.
Dolar merosot 0,1 persen menjadi 110,98 yen, turun dari sesi tertinggi 111,165. (ef)

Sumber : Admin