Uni Eropa Kenakan Bea Masuk Sementara Biodiesel Indonesia Hingga 18%
Wednesday, August 14, 2019       14:12 WIB

Ipotnews - Komisi Eropa memberlakukan bea masuk impor biodiesel dari Indonesia sebesar 8% sampai 18%. Produsen Uni Eropa menuduh pemerintah Indonesia melakukan praktik perdagangan tidak sehat dengan memberikan subsidi kepada produsen produk biodiesel dalam negeri.
"Bea impor baru dikenakan secara sementara dan penyelidikan akan berlanjut dengan kemungkinan untuk menerapkan langkah-langkah definitif pada pertengahan Desember 2019," ungkap eksekutif UE seperti dikutip Reuters, Rabu (14/8).
Pekan lalu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mengatakan akan merekomendasikan kepada tim antar-menteri tarif sebesar 20% -25% untuk produk susu UE sebagai balasan terhadap UE. Ia menambahkan, bahwa telah meminta importir produk susu untuk menemukan sumber pasokan di luar28 negara anggota Uni Eropa.
Langkah UE tersebut merupakan pukulan kedua bagi produsen biodiesel Indonesia setelah menghapus minyak sawit dari kelompok bahan bakar transportasi terbarukan pada Maret lalu. Mereka menuding perkebunan kelapa sawit berkontribusi terhadap terjadinya deforestasi.
Komisi Eropa, yang mengoordinasikan kebijakan perdagangan untuk UE, meluncurkan penyelidikan anti-subsidi pada bulan Desember menyusul keluhan oleh Dewan Biodiesel Eropa. Pasar biodiesel UE diperkirakan bernilai 9 miliar euro per tahun, dengan impor dari Indonesia bernilai sekitar 400 juta euro.
Mereka menyebutkan hasil penyelidikan menunjukkan bahwa produsen biodiesel Indonesia mendapat manfaat dari hibah, manfaat pajak, dan akses ke bahan baku di bawah harga pasar.
Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) M.P. Tumanggor mengatakan, perusahaan-perusahaan yang terkena dampak bea masuk anti-subsidi kemungkinan akan dipaksa untuk menegosiasikan kembali kontrak mereka dengan pembeli di UE. Langkah tersebut kemungkinan akan mengurangi ekspor biodiesel 2019.
"Semula kami menargetkan 1,4 juta ton ekspor tahun ini ke Eropa, yang kemungkinan besar tidak akan tercapai," kata Tumanggor. Ia memperkirakan ekspor hanya akan mencapai sekitar 1 juta ton. (Reuters)

Sumber : Admin