Upaya China dan Asia Atasi Dampak Virus, Pertahankan Reli Aset Emerging Market
Monday, February 17, 2020       16:18 WIB

IpotnewsEmerging market  bisa membaca isyarat pemulihan harga komoditas dan tanda-tanda bahwa upaya Cina untuk membendung penyebaran virus korona mulai menunjukkan hasil.
Hingga Jumat pekan lalu, indeks acuan saham, obligasi dan mata uang  emerging market  (EM) semuanya menguat selama lima hari berturut-turut, karena harga komoditas bahan baku mencatatkan pekan terbaik sepanjang tahun ini. Pejabat Partai Komunis China mendesak pemerintah China untuk memenuhi target ekonomi tahun 2020, ketika provinsi Hubei, pusat penyebaran wabah virus korona, melaporkan pelambatan laju kasus infeksi baru.
Meskipun reli sudah terjadi sejak akhir Januari, kinerja saham dan obligasi EM lebih buruk dibanding aset negara maju. Menurut Pictet Asset Management mengatakan tren tersebut akan segera berbalik.
"Valuasi di  emerging market  pasar negara berkembang, mengingat apa yang terjadi saat ini, lebih menarik daripada pasar negara maju," kata Luca Paolini, kepala strategi di Pictet, London, seperti dikutip Bloomberg, Senin (17/2).
Indeks MSCI Inc. ekuitas EM naik 1,3% pada pekan lalu, mengurangi kerugian tahun ini menjadi 0,8%. Mata uang di negara-negara berkembang menguat untuk pertama kalinya dalam empat perkan terakhir, dipimpin oleh peso Meksiko, rand Afrika Selatan, dan rubel Rusia. Indeks komoditas Bloomberg naik untuk pertama kalinya sejak awal Januari.
Jelang akhir pekan ini, para menteri keuangan dari seluruh dunia akan berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, untuk membahas ekonomi global dan cara-cara membatasi dampak dari virus korona. Pemerintah Singapura akan memberikan beberapa indikasi tentang bagaimana virus itu mempengaruhi ekonomi Asia ketika mengumumkan anggarannya pada hari Selasa.
Mendorong penguatan aset EM pada pekan ini, bank sentral China hari ini memangkas suku bunga satu tahun untuk pendanaan jangka menengah bank komersial sebesar 10 basis poin menjadi 3,15%, terendah sejak 2017.
Pemangkasan suku bunga oleh bank sentral China akan mendorong penurunan suku bunga pinjaman - sebagai basis penetapan bunga pinjaman korporasi dan rumah tangga - pada Kamis mendatang, ketika otoritas moneter berusaha untuk menjaga kecukupan aliran dana murah ke bisnis dan konsumen yang berjuang untuk melawan dampak virus.
"Fokusnya akan ke China, untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang penting untuk kawasan ini dan sekitarnya - bagaimana kemajuan upaya untuk menahan virus korona yang sedang berlangsung, seberapa banyak perekonomian telah berhasil berputar kembali setelah berhenti cukup lama, dan bagaimana perubahan kebijakannya," tulis Bloomberg Economics dalam laporannya. "Kami mengekspektasikan pemotongan suku bunga pinjaman, dan pencarian langkah-langkah lain yang bertujuan menopang pertumbuhan."
Di luar China, Bank Indonesia diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan pada Kamis nanti, setelah tampil sebagai salah satu bank sentral di Asia yang paling vokal menegaskan akan mempertahankan kebijakan yang akomodatif untuk melawan dampak ekonomi dari virus korona.
Sementara itu, bank-bank sentral di Malaysia, Thailand dan Filipina telah mengurangi biaya pinjaman tahun ini dan telah mengisyaratkan tetap terbuka untuk pelonggaran lebih lanjut.
"Bank-bank sentral Asia sedang berusaha untuk mendahului kurva pelonggaran moneter demi mendukung pertumbuhan karena wabah penyakit yang menyebar cepat telah meredam prospek ekonomi," tulis Prakash Sakpal, ekonom ING Groep NV, Singapura dalam catatanya kepada nasabah. "Yang berikutnya akan bergabung dalam lomba, sepertinya Indonesia," Sakpal menambahkan.
Ekonomi Indonesia terbilang rentan terhadap penutupan pabrik-pabrik di China, karena akan mengurangi permintaan untuk ekspor beberapa komoditas seperti minyak kelapa sawit, batubara, dan tembaga. China menjaai salah satu negara tujuan ekspor utama, dengan pengiriman tahun lalu mencapai USD28 miliar.
Meskipun rupiah telah turun dari nilai tukar tertinggi dua tahun yang dicapai pada akhir Januari lalu, namun masih tampil sebagai mata uang berkinerja terbaik di Asia tahun ini, dengan kenaikan 1,3% terhadap dolar AS. Tahun lalu Bank Indonesia telah memangkas suku bunga repo tujuh hari dengan total 100 basis poin menjadi 5%.
Analis memperkirakan gubernur bank sentral Turki, Murat Uysal juga akan melanjutkan penurunan suku bunga pada Rabu besok, bergerak selangkah lebih dekat ke level satu digit yang diminta oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pelonggaran moneter yang agresif telah membawa suku bunga Turki di bawah tingkat inflasi. Lira melemah 2,6% dalam sebulan terakhir. (Bloomberg)

Sumber : Admin