Wall Street Variatif Jelang Keputusan The Fed: Dow -0,38%, S&P 500 -0,09 dan Nasdaq +0,13%
Wednesday, December 10, 2025       05:37 WIB
  • Wall Street bergerak mixed; S&P 500 turun tipis, terganggu jatuhnya JPMorgan setelah memperkirakan lonjakan biaya 2026.
  • Pasar berhati-hati jelang keputusan the Fed, dengan yield Treasury naik dan data tenaga kerja menunjukkan sinyal campuran.
  • Sektor beragam: healthcare melemah, energi menguat, teknologi fluktuatif; AutoZone, Campbell Soup, dan JPMorgan jadi penekan indeks.

Ipotnews - Indeks S&P 500 sedikit melemah, Selasa, karena investor mengantisipasi Federal Reserve akan mempertahankan nada hawkish meski diprediksi menurunkan suku bunga pekan ini. Saham JPMorgan menjadi penekan terbesar indeks acuan tersebut setelah bank terbesar di Amerika Serikat itu memperingatkan lonjakan biaya operasional pada 2026.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 179,03 poin atau 0,38% menjadi 47.560,29, S&P 500 melemah 6 poin atau 0,09% jadi 6.840,51, sementara Nasdaq Composite Index menguat 30,58 poin atau 0,13% ke posisi 23.576,49, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (9/12) atau Rabu (10/12) pagi WIB.
Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 sempat menyentuh rekor intraday sebelum ditutup naik 0,21% atau 5,26 poin menjadi 2.526,24.
The Fed memulai pertemuan kebijakan dua hari, Selasa, dengan mayoritas pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis poin meski inflasi masih di atas target 2%.
Sinyal yang variatif dari pejabat bank sentral--sebagian memperingatkan potensi percepatan inflasi, sementara lainnya fokus pada kesehatan pasar tenaga kerja--membuat investor tetap berhati-hati.
Laporan Departemen Tenaga Kerja, Selasa, menunjukkan lowongan pekerjaan naik tipis sepanjang Oktober, sementara tingkat perekrutan tetap rendah. Laporan terpisah dari National Federation of Independent Business ( NFIB ) memperlihatkan lebih banyak perusahaan berencana menambah tenaga kerja dalam waktu dekat.
"Pasar saat ini berasumsi the Fed akan sedikit kurang dovish karena data lowongan kerja tersebut," kata Jeff Schulze, Kepala Strategi Ekonomi dan Pasar ClearBridge. Namun dia menilai investor kini melihat peluang lebih besar the Fed akan melakukan jeda setelah pemangkasan suku bunga pekan ini.
Kekhawatiran lain datang dari lonjakan imbal hasil US Treasury. Justin Bergner, Manajer Portofolio Gabelli Funds, mengatakan kenaikan yield menambah tekanan tersendiri menjelang keputusan the Fed.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun terakhir berada di 4,18%, menuju kenaikan empat hari beruntun.
Sektor perbankan mencatat volatilitas signifikan. Setelah sempat melesat hampir 1% di awal sesi, indeks perbankan S&P 500 berbalik anjlok 2% setelah Chief Executive Consumer and Community Banking JPMorgan, Marianne Lake, mengatakan biaya operasional bank diperkirakan melonjak menjadi sekitar USD105 miliar pada 2026 karena meningkatnya aktivitas dan volume bisnis. Saham JPMorgan merosot 4,7%, penurunan harian terbesar sejak 4 April.
Dari 11 sektor di S&P 500, lima tertekan pada perdagangan Selasa, dengan kesehatan (healthcare) memimpin pelemahan hampir 1%. Energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik, berakhir naik 0,7%.
Perdagangan saham teknologi bergerak fluktuatif. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengizinkan Nvidia--pemimpin chip kecerdasan buatan--mengirimkan prosesor H200 ke China dengan biaya 25% untuk setiap ekspor. Namun laporan  Financial Times  menyebut Beijing berencana membatasi akses terhadap chip tersebut, sementara kalangan garis keras di Washington mengecam keputusan pemerintahan Trump.
Saham Nvidia tergelincir 0,3%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia turun 0,04%.
Investor juga menantikan laporan keuangan dari Oracle dan Broadcom pekan ini untuk menilai berlanjut tidaknya belanja infrastruktur AI di korporasi.
Di sektor hiburan, perhatian tertuju pada persaingan akuisisi antara Paramount, Skydance, dan Netflix terhadap Warner Bros. Saham Warner ditutup melambung 3,8%, Paramount menguat 0,5%, dan Netflix turun 0,08%.
Beberapa saham konsumen tertekan. Campbell Soup jatuh 5,2% setelah perusahaan makanan kemasan itu menaikkan harga untuk menutupi biaya yang meningkat.
Saham AutoZone ambles 7,2% setelah laba kuartalannya meleset dari estimasi. AutoZone, Campbell, dan JPMorgan mencetak penurun terbesar di S&P 500.
Di New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,14:1, dengan 209 saham mencatat level tertinggi baru dan 56 saham mencatat terendah baru. Di Nasdaq, 2.642 saham menguat dan 2.137 melemah, dengan rasio 1,24:1.
S&P 500 mencatat 17 titik tertinggi baru dalam 52 minggu dan delapan titik terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 100 titik tertinggi baru dan 74 titik terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 14,50 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 17,34 miliar saham. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Walmart Inc (1,32%)
-Goldman Sachs Group Inc (1,14%)
-Procter & Gamble Company (0,93%)
Saham berkinerja terburuk
-JPMorgan Chase & Co (-4,66%)
-Boeing Co (-2,85%)
-Verizon Communications Inc (-2,81%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Teleflex Incorporated (9,54%)
-Newmont Goldcorp Corp (5,72%)
-MarketAxess Holdings Inc (4,91%)
Saham berkinerja terburuk
-AutoZone Inc (-7,17%)
-Campbell's Co (-5,19%)
-JPMorgan Chase & Co (-4,66%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Aimei Health Technology Co Ltd (962,43%)
-Oriental Culture Holding Ltd (291,98%)
-Netcapital Inc (113,23%)
Saham berkinerja terburuk
-Top Wealth Group Holding Ltd (-72,74%)
-Safe & Green Development Corp (-57,30%)
-Biodexa Pharmaceuticals PLC DRC (-53,75%)

Sumber : Admin