Wall Street Terjerembab Lagi, Dow Kehilangan Lebih dari 500 Poin
Friday, October 12, 2018       05:45 WIB

Ipotnews - Saham Amerika Serikat jatuh untuk sesi kedua berturut-turut, Kamis, karena volatilitas di Wall Street di tengah kekhawatiran tentang suku bunga yang lebih tinggi dan perang perdagangan.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 2,13 persen atau 545,91 poin menjadi 25.052,83, membawa kerugian untuk pekan ini menjadi lebih dari lima persen, demikian laporan AFP dan CNBC , di New York, Kamis (11/10) atau Jumat (12/10) pagi WIB.
Sementara itu, indeks berbasis luas S&P 500 anjlok 2,06 persen atau 57,31 poin menjadi 2.728,26, sedangkan Indeks Komposit Nasdaq menyusut 1,25 persen atau 92,99 poin menjadi 7.329,06.
Penurunan tersebut--yang mendorong indeks utama ke level terendah dalam beberapa bulan--terjadi ketika Presiden Donald Trump berulang kali mengecam Federal Reserve karena menaikkan suku bunga, memicu kekhawatiran independensi bank sentral Amerika dari politik dapat dikompromikan.
Sejumlah pengamat pasar memprediksi kebangkitan pada perdagangan Kamis setelah kejatuhan di sesi Rabu, hari terburuk Wall Street sejak Februari.
Wall Street dibuka dengan kenaikan moderat setelah data inflasi Amerika yang sederhana. Tetapi tidak butuh waktu lama untuk volatilitas kembali lagi dengan indeks utama mencapai posisi terendah pada sesi tersebut di 90 menit terakhir sebelum bergerak ke atas sedikit.
Pencetak penurunan terbesar dalam komponen Dow antara lain JPMorgan Chase, Exxon Mobil, McDonald's, Pfizer, dan Procter & Gamble. Semua jatuh setidaknya tiga persen.
"Ketika kita mendapati kalibrasi ulang dalam nilai, tidak mengherankan itu dibutuhkan lebih dari satu hari," kata Art Hogan, kepala strategi pasar B. Riley FBR. "Dalam pergerakan seperti ini, biasanya butuh waktu tiga hari."
Indeks utama jatuh setelah beberapa raksasa teknologi utama gagal pulih dari kejatuhan di sesi sebelumnya. Netflix turun lebih dari 1 persen setelah diperdagangkan lebih tinggi dalam waktu singkat. Apple juga turun 0,9 persen, menghapus kenaikan sebelumnya. Amazon merosot 2 persen setelah jatuh 6,2 persen, Rabu.
"Ini adalah koreksi momentum, bukan koreksi portofolio," kata Joe Terranova, kepala strategi pasar Virtus Investment Partners. "Meskipun kita memiliki bias untuk percaya bahwa gejolak 2008 dapat terjadi lagi, saya pikir itu bukan masalahnya."
Sebagian besar pelaku pasar melihat lonjakan imbal hasil obligasi US Treasury 10-tahun, pekan lalu, sebagai katalis untuk kejatuhan dua hari ini, pergerakan lebih tinggi yang tak terduga, menimbulkan kekhawatiran tentang akselerasi inflasi yang mendadak dan kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih agresif.
Musim laba kuartal ketiga dilihat sebagai potensi penangkal kegelisahan. Musim laporan keuangan dimulai Jumat dengan kinerja dari JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya.
Tetapi Hogan mengatakan laporan pendapatan juga menjadi sumber kekhawatiran karena bisa menunjukkan konsekuensi perang dagang Trump terhadap perusahaan-perusahaan Amerika, dari kenaikan biaya bahan baku sehingga memaksa perusahaan untuk mengubah rantai pasokan.
"Keprihatinan yang lebih besar yang kita miliki adalah tentang apa yang perusahaan katakan mengenai Amerika dan China," ucap Hogan. "Saya pikir ada sedikit keyakinan bahwa kita mendekati resolusi dengan China." (ef)

Sumber : Admin