Wall Street Variatif, S&P 500 dan Nasdaq Akhiri Keperkasaan Tiga Sesi Beruntun
Friday, March 15, 2019       05:55 WIB

Ipotnews - Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup lebih rendah untuk pertama kalinya dalam empat sesi, Kamis, setelah rilis data penjualan rumah Amerika yang lemah, sementara Wall Street juga mencerna berita terbaru tentang perselisihan perdagangan AS-China.
Penurunan dalam kelompok jasa komunikasi, yang dipimpin Facebook, mendorong S&P 500 turun 0,09 persen atau 2,44 poin menjadi 2.808,48, demikian laporan  CNBC  dan  AFP , di New York, Kamis (14/3) atau Jumat (15/3) pagi WIB.
Saham Facebook juga membebani Nasdaq, yang ditutup menyusut 12,49 poin atau sekitar 0,16 persen menjadi 7.630,91. Dow Jones Industrial Average, sementara itu, menguat 7,05 poin atau 0,03 persen menjadi ditutup pada posisi 25.709,94.
Saham Facebook anjlok 1,9 persen setelah layanan aplikasi intinya, Instagram dan WhatsApp,  nge  drop  di seluruh dunia. Saham media sosial itu juga berada di bawah tekanan setelah  The New York Times  melaporkan jaksa federal sedang melakukan investigasi kriminal pada transaksi data yang dibuat perusahaan tersebut dengan raksasa teknologi lainnya.
Penjualan rumah baru turun 6,9 persen pada Januari - lebih besar dari perkiraan dan tanda penutupan aktivitas pemerintah ( government shutdown ) Amerika bisa membuat konsumen menunda pembelian.
Investor juga terbebani negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung antara China dan AS. Tiga narasumber  CNBC  mengatakan bahwa China ingin mengaitkan kunjungan kenegaraan resmi ke Amerika dengan pengumuman kesepakatan perdagangan.
Sumber-sumber itu mengatakan China ingin kesepakatan sepenuhnya diselesaikan sebelum Presiden China Xi Jinping duduk bersama Presiden Donald Trump. Mereka juga mengatakan, bagaimanapun, Trump lebih suka untuk menutup kesepakatan sendiri dengan Xi secara langsung.
Dilaporkan  Bloomberg News  pada hari sebelumnya, China dan AS berusaha mendorong kembali pertemuan antara kedua pemimpin negara dari akhir Maret menjadi April, secepatnya. Ini terjadi setelah Trump mengatakan dia tidak terburu-buru untuk membuat perjanjian. Laporan  Bloomberg  muncul setelah  output  industri China berkembang pada tingkat paling lambat dalam 17 tahun.
Investor memperkirakan kedua pemimpin akan bertemu di Mar-a-Lago, akhir bulan ini, setelah kedua belah pihak mengklaim kemajuan sedang dibuat pada negosiasi perdagangan.
Peter Cardillo, analis Spartan Capital mengatakan kepada  AFP  bahwa pasar keuangan berada dalam pola "wait and see".
"Kesepakatan perdagangan tampaknya didorong kembali, itu menyebabkan beberapa keraguan," katanya.
Meski begitu, kedua negara masih diperkirakan mencapai kesepakatan, tetapi optimisme seputar negosiasi perdagangan AS-China "memudar," kata Jason Pride, Kepala Investasi Glenmede. "Prospek untuk kesepakatan yang akan segera terjadi, yang tampaknya telah diperhitungkan oleh pasar, menyusut dalam jangka pendek."
Saham Apple naik lebih dari 1 persen setelah Cowen memprakarsai cakupan perusahaan itu dengan peringkat yang lebih baik dan target harga USD220. Cowen mengutip potensi kenaikan jangka panjang dari bisnis jasa Apple.
Snap, sementara itu, menguat lebih dari 12 persen setelah analis BTIG Richard Greenfield - yang lama skeptis terhadap perusahaan media sosial - meng- upgrade  sahamnya menjadi "buy" untuk kali pertama.
Sektor teknologi S&P 500  on fire  minggu ini, reli lebih dari 3 persen hingga penutupan Kamis. Itu juga merupakan sektor dengan kinerja terbaik hingga saat ini.
Di tempat lain, General Electric berfluktuasi hebat setelah raksasa industri itu mengeluarkan pedoman pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan untuk 2019. Saham tersebut awalnya turun sekitar 4 persen sebelum berbalik untuk ditutup 2,8 persen lebih tinggi.
Saham raksasa penerbangan AS, Boeing, terus merosot, sehari setelah Amerika Serikat menjadi ekonomi utama terakhir yang melarang pesawat terlaris perusahaan itu dari wilayah udara menyusul kecelakaan mematikan di Ethiopia, Minggu.
Saham Boeing turun 1 persen pada penutupan, dan telah kehilangan sekitar 12 persen minggu ini. (ef)

Sumber : Admin