- IHSG menguat 0,52% ke 6.535 pada akhir sesi I, ditopang sektor industri yang naik 0,87%.
- Bursa Asia mayoritas menguat, tetapi tekanan pasar obligasi global masih membayangi.
- Harga minyak tetap tinggi di tengah kebuntuan AS-Iran. Brent berada di US$93,55 dan WTI US$86,50 per barel.
Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) bergerak menguat pada akhir perdagangan sesi I hari Jumat (21/8). IHSG naik 0,52 persen (33 poin) ke posisi 6.535.
Volume perdagangan yang tercatat mencapai 266,5 juta lot saham. Dengan volume perdagangan tersebut, nilai transaksi yang dibukukan Rp8,9 triliun.
Saham top gainers LQ45: , , , , , , .
Saham top losers LQ45: , , , , , , .
Sektor industry di posisi terkuat, naik 0,87%. Saham sektor ini yang menghijau adalah , .
Sementara sektor kesehatan terpuruk paling dalam 1,08%. Saham-saham kesehatan yang tekor di antaranya , , , , , .
Bursa Asia
Sebagian besar pasar saham Asia menguat pada trading hari Jumat (21/8) siang meskipun terkoreksi secara mingguan akibat tekanan di pasar obligasi global belum reda.
Sementara kebuntuan diplomatik di kawasan Teluk mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam satu bulan dan terus menyoroti risiko inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasuries) kembali naik setelah intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan pada hari Rabu hanya memberikan jeda sesaat dari aksi jual.
Kenaikan ini terjadi meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah dan melontarkan gagasan konsolidasi fiskal.
Para analis meragukan kemampuannya menemukan langkah pemangkasan belanja yang cukup signifikan untuk menekan defisit anggaran yang melampaui 6% dari produk domestik bruto (PDB), mengingat beban bunga saja tahun ini mencapai US$1,2 triliun.
"Secara historis, pasar cenderung melawan ketika mereka meyakini faktor fundamental--seperti rekor tingkat utang dan defisit yang sangat besar--berpihak pada mereka, dan intervensi lebih lanjut bisa menjadi terlalu mahal untuk ditanggung," ujar Steven Zeng, seorang ahli strategi di Deutsche Bank.
Bessent juga menjadi sorotan setelah menjabarkan lebih lanjut janji Presiden Donald Trump mengenai perang ekonomi terhadap Iran, dengan menyatakan bahwa AS akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap negara tersebut.
Indeks Saham Asia
Indeks Nikkei225 (Jepang) -0,44%
Indeks Topix (Jepang) +0,05%
Shanghai Composite (China) +0,00%
Shenzhen Component (China) +0,63%
CSI 300 (China) +0,52%
Hang Seng (Hong Kong) +0,72%
Indeks Kospi (Korsel) +0,60%
Taiex (Taiwan) +0,36%
S&P/ASX200 (Australia) -0,38%
Asia Currencies
Yen stag 0,00% menjadi 159,05 per USD
SGD up 0,14% menjadi 1,2703 per USD
AUD up 0,35% ke posisi 0,7139 per USD
Rupiah melaju 0,17% menjadi 17.717 per USD
Rupee drop 0,01% ke 95,7188 per USD
Yuan up 0,04% ke 6,7222 per USD
Ringgit down 0,01% ke 4,0452 per USD
Baht melaju 0,35% ke 32,7490 per USD
Oil
Harga minyak turun tipis pada hari Jumat (21/8) karena perang AS-Iran yang buntu terus mengganggu pasokan dari kawasan penghasil minyak utama di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 23 sen menjadi $93,55 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka turun 33 sen menjadi $86,50 per barel.
Kesepakatan damai sebelumnya antara mereka berakhir pekan ini tanpa upaya dari kedua pihak untuk memulai kembali pembicaraan, dan Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan pembalasan ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran.
"Kedua belah pihak bersikeras pada pendirian mereka tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk bermain strategi menunggu, di tengah harga minyak mentah yang terus melonjak tanpa henti," kata analis IG, Tony Sycamore, pada hari Jumat.
(reuters/cnbc/bloomberg/idx/AI)
Sumber : admin
powered by: IPOTNEWS.COM