News & Research

Reader

Bos KRAS: Krakatau Steel Rebound Tahun 2026 Ini
Wednesday, February 04, 2026       17:11 WIB

JAKARTA, investor.id -Direktur Utama atau bos PT Krakatau Steel Tbk () atau KS Akbar Djohan bertekad kuat mengembalikan kejayaan emiten BUMN baja tersebut pada tahun buku 2026 ini.
Tekad tersebut didukug oleh performa kinclong KS terutama setelah melewati badai restrukturisasi jilid pertama pada 2019. Tercatat, mampu membukukan laba sebesar US$44 juta pada 2021 dan sebesar US$23 juta pada 2023.
Prestasi tersebut, menurut Akbar, sekaligus menepis tudingan yang selama ini menyebut tidak pernah menghasilkan untung. Padahal, data historis menunjukkan, KS mampu mencatatkan laba selama dua tahun berturut-turut (2022-2023).
Hanya saja, peristiwa kahar menimpa KS pada 2023 di mana fasilitas HSM-1 terbakar yang membuat perseroan sulit berproduksi. Ditambah, perbaikan fasilitas tersebut juga molor dua tahun dari target perbaikan enam bulan.
Barulah kemudian, pada 28 Desember 2024, perseroan akhirnya mampu memproduksi gulungan baja pertama ( first coil ) setelah sempat terhenti akibat peristiwa kahar. Memasuki 2025, KS secara audited juga sukses membukukan laba sebesar US$402 juta.
Perlu Keberpihakan
Sementara menyangkut baja nasional, dalam hal ini KS yang dianggap kalah bersaing dengan baja impor dari China, menurut Akbar, persoalan tersebut perlu dilihat secara helicopter view . China merupakan negara yang sulit dihentikan ( unstoppable ) untuk dapat disaingi.
Kapasitas produksi baja Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 1,6 miliar ton per tahun. Sedangkan, kapasitas baja nasional hanya 18 juta ton per tahun dengan utilisasi kurang dari 60%.
"Jadi tidak apple to apple untuk membandingkan kenapa baja Krakatau Steel, khususnya baja nasional, tidak bisa bersaing dengan baja murah asing," ucap Akbar dalam rapat kerja dan rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Walau begitu, dengan transformasi yang Danantara dan manajemen lakukan, baik secara internal maupun eksternal, terutama yang terkait dengan regulasi seperti trade remedies dan biaya masuk antidumping, Akbar menyatakan, harus ada keberpihakan kepada industri baja nasional.
Dengan pendekatan semacam itu, pun tidak akan berdiri sendirian. Sebaliknya, Krakatau justru menjadi payung besar bagi industri baja nasional. Sebab tanpa keberpihakan terhadap industri baja dalam negeri, bukan hanya KS yang sekarat, tetapi industri hilir baja nasional juga terancam lebih sekarat.
"Jadi, apa pun keputusan DPR, tentu ini momentum yang harus kita pakai untuk bisa membangkitkan kedaulatan industri baja nasional kita. Kami dari Krakatau Steel no point of return . Ini adalah momentum untuk kita buktikan bahwa Krakatau Steel akan rebound di tahun 2026 ini," tutup Akbar.

Sumber : investor.id

powered by: IPOTNEWS.COM