News & Research

Reader

Minyak Teruskan Penguatan, Terkatrol Rencana Amerika Isi Ulang Cadangan Strategis
Monday, December 11, 2023       14:59 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Senin, memperpanjang kenaikan untuk sesi kedua karena upaya Amerika untuk mengisi ulang cadangan strategis memberikan beberapa dukungan, meski kekhawatiran kelebihan pasokan dan pertumbuhan permintaan bahan bakar yang lebih lemah pada 2024 masih tetap menghantui.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, meningkat 0,73%, atau 55 sen, menjadi USD76,39 per barel pada pukul 14.39 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di New Delhi, Senin (11/12).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, berada di posisi USD71,69 per barel, bertambah 0,65%, atau 46 sen.
Kedua kontrak tersebut melambung lebih dari 2% pada sesi Jumat, tetapi jatuh untuk pekan ketujuh berturut-turut, penurunan mingguan terpanjang sejak 2018, di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan.
Pelemahan harga baru-baru ini menarik permintaan dari Amerika, yang mencari hingga 3 juta barel minyak mentah bagi Cadangan Minyak Strategis (SPR) untuk pengiriman Maret 2024.
"Kita tahu Pemerintahan Biden sedang mencari cara untuk mengisi ulang SPR, yang akan memberikan dukungan," kata analis IG, Tony Sycamore, menambahkan bahwa harga juga didukung oleh indikator technical chart.
Meski Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutunya, yang bersama-sama disebut OPEC +, berjanji untuk memangkas produksi sebesar 2,2 juta barel per hari pada kuartal pertama, investor tetap skeptis bahwa pasokan akan turun. Pertumbuhan output di negara-negara non- OPEC diperkirakan menyebabkan kelebihan pasokan tahun depan.
RBC Capital Markets memperkirakan penarikan stok sebesar 700.000 barel per hari pada semester pertama, tetapi hanya 140.000 barel per hari untuk setahun penuh.
"Harga akan tetap berfluktuasi dan tidak memiliki arah sampai pasar melihat data yang jelas mengenai pemotongan output secara sukarela," kata analis RBC.
Dengan pemotongan yang belum diimplementasikan sampai bulan depan dan data produksi tingkat negara yang akan menyusul setelah Januari, maka akan terjadi dua bulan yang bergejolak sebelum ada kejelasan awal mengenai data kuantitatif mengenai kepatuhan, tambah para analis.
Data indeks harga konsumen terbaru dari China, importir minyak terbesar dunia, menunjukkan meningkatnya tekanan deflasi karena lemahnya permintaan domestik menimbulkan keraguan terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut.
Jumat, sejumlah pejabat China berjanji akan memacu permintaan domestik dan mengkonsolidasikan serta meningkatkan pemulihan ekonomi pada 2024.
Minggu ini, investor mengamati panduan kebijakan suku bunga dari pertemuan lima bank sentral, termasuk Federal Reserve, dan data inflasi Amerika, untuk mengetahui dampaknya terhadap perekonomian global dan permintaan minyak. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM