JAKARTA, investor.id- PT Raharja Energi Cepu Tbk () membocorkan kisi-kisi laba bersih perseroan di tahun penuh (full year) 2025 dan besaran rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) yang dibagikan kepada pemegang saham.
Berkaca pada laporan keuangan sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025, emiten Happy Hapsoro ini membukukan pendapatan bersih sebesar US$37,61 juta, terkoreksi sekitar 13% dibandingkan pendapatan bersih pada periode sama tahun sebelumnya sebesar US$43,21 juta.
Meski pendapatan bersih tertekan, mampu menghasilkan laba bersih sebesar US$11,8 juta sepanjang Januari-September 2025. Perolehan tersebut lebih tinggi ketimbang laba bersih sebesar US$9,2 juta yang dibukukan perseroan hingga kuartal III-2024.
Direktur Keuangan , Adrian Hartadi, menjelaskan kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh COGS (Cost of Goods Sold) pada 2025 yang lebih rendah dibandingkan pada 2024, sehingga laba bersih dan EBITDA perseroan tetap meningkat walaupun pendapatan menurun.
"Jadi, kalau diestimasikan, kami bisa minimal di US$14 juta close di tahun (2025) ini. Walaupun dengan adanya lower average selling price dan lifting volume yang lebih rendah, kami bisa mempertahankan laba bersih minimal sama dengan tahun lalu US$14 juta," ucap Adrian di program Emiten Corner: Prospects and Challenges in the Future yang disiarkan secara virtual, Kamis (22/1/2026).
Hingga saat ini, laporan keuangan untuk full year 2025 masih dalam proses audit dan segera difinalisasi. Namun, sebagai pembanding, pada full year 2024, anak usaha PT Rukun Raharja Tbk () ini mencatatkan laba bersih sebesar US$13,9 juta, menurun dibandingkan laba bersih pada full year 2023 sebesar US$24,3 juta.
Sementara menyangkut dividen, Adrian bilang berkomitmen untuk membagikan dividen dengan rasio pembayaran dividen hingga 46% pada tahun buku 2025, dan pada 2026 harapannya rasio pembayaran dividen bisa di atas 46%.
"Kami masih berdiskusi internal. Kami mau membagikan dividen seperti apa. Tentu, kami harus kalkulasi juga berapa biaya, berapa kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan bisnis ke depan seperti apa. Baru setelah itu, kami bisa tentukan dividen yang pas untuk kami bagikan kepada pemegang saham," ujar Adrian.
Sejak melantai pada 8 Januari 2025, saham pada perdagangan Jumat (23/1/2026) berada di level Rp8.050, terbang 600% dari harga pada saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp1.150. Lompatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu saham emiten mercusuar ( lighthouse company ) pendatang baru dengan kenaikan saham paling kencang.
Sumber : investor.id
powered by: IPOTNEWS.COM