- STOXX 600 turun 0,49%, tertekan saham teknologi.
- Harga minyak naik 2%, memicu kekhawatiran inflasi.
- Pasar memperkirakan ECB dan The Fed menaikkan suku bunga.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melorot, Senin, setelah saham teknologi tertekan menyusul dorongan sejumlah pemimpin perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka untuk memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut. Lonjakan kembali harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi global turut menekan selera risiko investor.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,49% atau 3,11 poin menjadi 635,99, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Senin (14/9) atau Selasa (15/9) dini hari WIB.
Sebagian besar bursa regional juga bergerak melemah, meski indeks London dan Zurich menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,44% atau 47,13 poin ke posisi 10.697,57, dan bursa Swiss menguat 0,75% atau 103,27 poin menjadi 13.878,54. Sementara, indeks DAX Jerman menyusut 0,50% atau 127,75 poin jadi 25.440,81 dan CAC Prancis berkurang 0,76% atau 61,99 poin menjadi 8.117,78.
Sektor teknologi menjadi salah satu yang mencatatkan penurunan terbesar dengan melemah 2,1%, seiring saham-saham yang terkait dengan AI mengalami tekanan di berbagai pasar global.
CEO Anthropic Dario Amodei, Sabtu, menyerukan agar perusahaan-perusahaan memperlambat kemajuan kemampuan model AI. Seruan tersebut dilontarkan karena kekhawatiran terhadap potensi penyalahgunaan teknologi AI dan mendapat dukungan dari Elon Musk, pendiri xAI, serta CEO OpenAI Sam Altman.
Produsen chip asal Prancis, Soitec, menjadi saham dengan penurunan terbesar di STOXX 600 setelah anjlok 12,5%.
Di tengah tekanan terhadap saham teknologi secara umum, saham perusahaan perangkat lunak justru mencatatkan penguatan. Octave Intelligence, Capgemini, Sage, dan Relx masing-masing melonjak antara 5% hingga 7,5%.
Chief Market Analyst IG, Chris Beauchamp, mengatakan saham-saham tersebut sebelumnya menjadi korban kekhawatiran yang dikenal sebagai " SAAS pocalypse", yakni ketakutan bahwa perkembangan AI akan menggerus bisnis perusahaan software-as-a-service (SaaS).
"Kekhawatiran tersebut berlebihan. Namun, jika perusahaan-perusahaan AI besar benar-benar menginjak rem, prospek pendapatan Sage, RELX dan perusahaan SaaS lainnya secara global menjadi jauh lebih cerah, meski hal tersebut hanya menunda potensi kehilangan bisnis dalam jangka panjang," kata Beauchamp.
Sementara itu, saham perusahaan pertambangan Eropa merosot 2,5%. Saham penambang logam dasar maupun logam mulia sama-sama melemah mengikuti kejatuhan harga komoditas.
Sektor kesehatan menjadi pengecualian dengan menguat 2,7%. Saham GSK melesat 4,7% setelah perusahaan melaporkan hasil uji klinis positif untuk dua obat kanker paru-paru, sehingga semakin memperkuat momentum sektor tersebut.
Saham energi turun 0,8%, meskipun harga minyak mentah melonjak sekitar 2%. Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan terbaru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Lonjakan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir kembali menempatkan risiko inflasi sebagai perhatian utama investor dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral di berbagai negara dapat menaikkan suku bunga tahun ini.
Ekonomi Eropa dinilai sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak karena kawasan tersebut sangat bergantung pada impor energi.
Pembuat kebijakan European Central Bank (ECB), Senin, memperingatkan bahwa inflasi zona euro berpotensi melampaui proyeksi yang sebelumnya sudah tinggi. Pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga ECB sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun, setelah bank sentral tersebut menaikkan suku bunga pekan lalu.
Perkembangan tersebut turut mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah. Imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun atau bund, yang menjadi acuan kawasan Eropa, mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2009.
Di Amerika Serikat, imbal hasil US Treasury 10 tahun juga melompat hingga menyentuh level psikologis penting 5%.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada Federal Reserve yang diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya 25 basis poin pekan ini. Ekspektasi tersebut berubah signifikan dibandingkan pekan sebelumnya, ketika pasar masih memperkirakan peluang yang relatif berimbang antara kenaikan suku bunga dan keputusan mempertahankannya.
Di pasar politik, oposisi kiri-tengah Swedia, Senin, menjadi pihak yang paling berpeluang mengambil alih pemerintahan setelah hasil pemilu yang berlangsung ketat mengurangi pengaruh kelompok sayap kanan. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin
powered by: IPOTNEWS.COM