Saham Chip Rontok, Wall Street Berakhir Merah di Tengah Ancaman Inflasi
Tuesday, September 15, 2026       04:20 WIB
  • S&P 500 turun 0,48%, Nasdaq -0,56%, Dow -0,29%.
  • Nvidia anjlok 3,4%, indeks chip turun 5,9%.
  • Yield Treasury 10 tahun tembus 5%, picu ekspektasi kenaikan suku bunga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Senin, terseret kejatuhan saham Nvidia dan produsen chip setelah pimpinan perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka di Amerika Serikat menyuarakan kekhawatiran terkait keamanan teknologi tersebut dan menyerukan perlambatan pengembangannya.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup turun 0,48% atau 37,00 poin menjadi 7.619,98, Nasdaq Composite Index melorot 0,56% atau 146,62 poin ke posisi 26.186,41, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,29% atau 152,09 poin jadi 52.421,20, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Senin (14/9) atau Selasa (15/9) pagi WIB.
Sentimen investor juga tertekan setelah imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sempat menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2023. Kenaikan tersebut terjadi menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve pekan ini, dengan bank sentral secara luas diperkirakan kembali menaikkan suku bunga.
Saham yang terkait dengan AI berguguran di berbagai pasar global setelah pimpinan Anthropic, OpenAI, dan xAI memperingatkan risiko pengembangan AI yang terlalu cepat. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap investasi bernilai miliaran dolar di industri AI yang selama ini turut mendorong indeks saham Wall Street mencetak rekor.
Saham Nvidia merosot 3,4%, sementara Micron Technology anjlok lebih dari 5%. Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing terkoreksi lebih dari 4%.
Indeks PHLX Semiconductor yang mengukur kinerja saham-saham chip ambles 5,9%, meski indeks tersebut masih membukukan kenaikan 57% sepanjang 2026.
Di pasar komoditas, kontrak minyak mentah Brent ditutup melompat 1% menjadi USD105,68 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasokan energi setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan yield US Treasury dalam sebulan terakhir didorong inflasi yang tinggi, besarnya utang perusahaan dan pemerintah, serta kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal Amerika dalam jangka panjang.
Level 5% pada imbal hasil US Treasury 10 tahun yang dicapai pada Senin menjadi perhatian besar karena analis menilai kenaikan tersebut dapat merambat ke perekonomian Amerika dan mengancam reli pasar saham dengan mengurangi daya tarik relatif ekuitas Wall Street.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 90% bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan pada Rabu untuk mengendalikan inflasi yang kembali tertekan oleh kenaikan harga minyak, berdasarkan FedWatch CME Group.
"Imbal hasil 10 tahun yang menembus 5% merupakan hal besar dan memberikan banyak sinyal. Kondisi tersebut dapat mendorong the Fed untuk melakukan lebih dari sekadar satu kali kenaikan suku bunga," kata CEO Longbow Asset Management, Jake Dollarhide.
Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di area negatif. Sektor teknologi informasi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,68%, disusul sektor industri yang melemah 1,44%.
Aktivitas perdagangan di bursa Wall Street relatif tinggi dengan sekitar 15,3 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 14,8 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
Di tengah tekanan saham teknologi, beberapa ekuitas perusahaan perangkat lunak justru menguat. ServiceNow, Adobe, dan Workday masing-masing melonjak antara 4% hingga 7,4%. Saham-saham tersebut sebelumnya ikut tertekan dalam beberapa sesi terakhir akibat kekhawatiran bahwa persaingan dari perusahaan AI dapat menggerus margin keuntungan.
Saham Bank of America anjlok 5,1% setelah CEO Brian Moynihan mengatakan pendapatan dari aktivitas investment banking diperkirakan turun setidaknya 10% pada kuartal III.
Penurunan S&P 500 baru-baru ini, yang terjadi bersamaan dengan prospek laba perusahaan yang tetap kuat, membuat indeks tersebut diperdagangkan sekitar 19 kali proyeksi laba. Valuasi tersebut merupakan yang termurah sejak April 2025, ketika pengumuman tarif "Liberation Day" oleh Presiden AS Donald Trump memicu gejolak di pasar global.
Di dalam indeks S&P 500, saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,3 berbanding 1.
S&P 500 mencatat 10 saham yang mencapai level tertinggi baru dan sembilan saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq membukukan 47 saham yang mencetak level tertinggi baru dan 202 saham yang mencatat level terendah baru. (Reuters/CNBC/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Salesforce Inc (4,73%)
-International Business Machines (2,38%)
-Microsoft Corporation (1,97%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-4,22%)
-Goldman Sachs Group Inc (-3,96%)
-Nvidia Corporation (-3,37%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-CrowdStrike Holdings Inc (13,85%)
-Palo Alto Networks Inc (13,09%)
-Gartner Inc (9,73%)
Saham berkinerja terburuk
-Corning Incorporated (-13,70%)
-Teradyne Inc (-13,30%)
-Hewlett Packard Enterprise Co (-10,77%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Future Fintech Group Inc (179,51%)
-Intercont (66,83%)
-Basel Medical Group (49,06%)
Saham berkinerja terburuk
-Cheetah Net Supply Chain Service Inc (-86,82%)
-Q/C Technologies Inc (-66,96%)
-Advasa Holdings Inc (-58,24%)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM