Wall Street Tergelincir Usai The Fed Naikkan Suku Bunga, Dow Susut 1,21%
Thursday, September 17, 2026       04:25 WIB
  • Dow turun 1,21%, S&P 500 -0,45%, Nasdaq -0,01% usai the Fed naikkan bunga.
  • Sektor energi anjlok 3% seiring harga minyak merosot.
  • Intel naik 4%, sementara Boeing turun 3,7% dan IBM -4,4%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Rabu, setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun guna meredam inflasi yang masih tinggi, yang turut dipicu lonjakan harga minyak di tengah perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 631,21 poin atau 1,21% menjadi 51.461,90, S&P 500 melemah 33,92 poin atau 0,45% ke posisi 7.551,81, sedangkan Nasdaq Composite Index turun tipis 3,15 poin atau 0,01% jadi 25.978,43, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Rabu (16/9) atau Kamis (17/9) pagi WIB.
Dalam pernyataan kebijakannya, the Fed mengatakan keputusan menaikkan suku bunga diambil secara bulat. Bank sentral AS juga mengisyaratkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut dalam waktu dekat untuk mempercepat penurunan inflasi.
"Seperti yang telah diperkirakan secara luas, the Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Kenyataannya, the Fed tampaknya bersatu dalam memerangi inflasi," kata Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group di Omaha.
Dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Chairman Fed Kevin Warsh mengatakan ekonomi Amerika telah menguat sejak pertemuan sebelumnya, tetapi tren inflasi hanya menunjukkan sedikit perbaikan.
Detrick mengatakan sisi positifnya adalah the Fed tidak menilai beberapa kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang akan memberikan dampak besar terhadap kekuatan ekonomi Amerika. Namun, inflasi telah berada di atas target 2% selama lima tahun.
Sebelum keputusan the Fed diumumkan, ketiga indeks utama Wall Street sempat menguat. Rebound saham semikonduktor turut menopang Nasdaq yang memiliki banyak saham teknologi.
Data penjualan ritel yang kuat pada awal perdagangan juga menunjukkan konsumen Amerika masih mempertahankan belanja, meski daya beli tertekan oleh kenaikan harga, terutama bahan bakar.
Di sisi lain, konflik Timur Tengah kembali meluas. Pesawat tempur Arab Saudi menggempur Yaman, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah kota di Saudi, menunjukkan meluasnya jangkauan konflik.
Namun, harga minyak justru turun setelah laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan. Harga minyak meroket lebih dari 20% dalam 2,5 pekan terakhir.
Minyak mentah berjangka WTI ditutup anjlok 3,2%, sedangkan Brent merosot 2,7%.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, teknologi menjadi penguat terbesar. Sebaliknya, sektor energi mencatat penurunan paling dalam, yakni 3%, tertekan kejatuhan harga minyak.
Saham Chevron melorot 2,9% dan Exxon Mobil terkoreksi 3,5%. Saham Devon Energy dan ConocoPhillips masing-masing anjlok lebih dari 5%.
Teknologi mendapat dorongan dari saham semikonduktor yang naik 0,6%, sekaligus mencatat penguatan signifikan pertama sejak para eksekutif perusahaan AI menyerukan perlambatan pengembangan kapabilitas teknologi serta koordinasi keselamatan di seluruh industri.
Saham Robinhood merosot 5,5% setelah Senat Amerika gagal memajukan undang-undang besar terkait cryptocurrency, yang menjadi pukulan bagi perusahaan aset digital. Secara terpisah, Departemen Kehakiman AS pada Selasa mendakwa dua mantan insinyur Robinhood atas dugaan perdagangan orang dalam dan penyalahgunaan informasi rahasia.
Saham Intel melesat 4% setelah muncul laporan bahwa SK Hynix Korea Selatan tengah melakukan pembicaraan dengan perusahaan tersebut terkait produksi chip memori di Amerika. Saham SK Hynix yang diperdagangkan di AS naik 0,6%.
Sementara itu, saham IBM anjlok 4,4% setelah perusahaan mengatakan unit chip-nya, Anderon, telah menandatangani kesepakatan pendanaan dengan pemerintah Amerika.
Saham Boeing menyusut 3,7% setelah CEO Kelly Ortberg mengatakan proses menstabilkan tingkat produksi 737 MAX menjadi 47 pesawat per bulan membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan.
Di Bursa New York ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 1,75 banding 1. Terdapat 76 saham yang mencatatkan level tertinggi baru dan 430 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.913 saham menguat dan 2.840 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,48 banding 1.
S&P 500 mencatat 10 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham mencetak posisi terendah baru. Nasdaq Composite membukukan 51 saham pada level tertinggi baru dan 257 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 18,42 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 15,33 miliar saham dalam 20 sesi transaksi terakhir. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Honeywell International Inc (2,07%)
-Nvidia Corporation (0,82%)
-Merck & Company Inc (0,78%)
Saham berkinerja terburuk
-International Business Machines (-4,38%)
-Goldman Sachs Group Inc (-3,96%)
-American Express Company (-3,70%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Axon Enterprise Inc (5,97%)
-GE Vernova LLC (4,79%)
-Edwards Lifesciences Corp (4,13%)
Saham berkinerja terburuk
-JB Hunt Transport Services Inc (-13,30%)
-ON Semiconductor Corporation (-9,02%)
-Diamondback Energy Inc (-8,03%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Delixy Holdings Ltd (451,81%)
-DataMeds AI Inc (274,69%)
-Synergy CHC Corp (233,41%)
Saham berkinerja terburuk
-Xenetic Biosciences Inc (-48,71%)
-Cuprina Holdings Inc (-45,39%)
-Myseum Inc (-34,67%)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM