- Bursa saham Asia dibuka mixed, investor mencermati pergerakan yield US Treasury setelah sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
- Harga minyak melonjak dengan Brent menembus USD102,31 per barel, sedangkan pasar menanti data nonfarm payrolls AS yang diperkirakan bertambah 84.000 pekerjaan.
- IHSG berpotensi tertekan setelah turun 1,02% ke 6.009, dengan inflasi September 3,28%, rupiah mendekati Rp18.000, dan sentimen risk-off membayangi pasar domestik.
Ipotnews - Jelang akhir pekan, Jumat (2/10), bursa saham Asia dibuka bervariasi. Investor terus mencermati pasar obligasi setelah US Treasury berbalik menguat.
Laman CNBC melaporkan, imbal hasil (yield) US Treasury sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun sebelum berbalik turun. Yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan, melesat ke 5,344%, tertinggi sejak 2002. Yield obligasi Treasury 30 tahun juga mencapai level tertinggi dalam 24 tahun.
Harga minyak turut naik setelah The Wall Street Journal melaporkan AS akan mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Kontrak berjangka Brent melonjak lebih dari 4% menjadi USD102,31 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% menjadi USD92,87 per barel.
Investor akan mencermati laporan nonfarm payrolls AS untuk September, Jumat ini. Konsensus Dow Jones memperkirakan penambahan 84.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,1%.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200 Australia sebesar 0,36%. Indeks berlanjut menguat 0,26% menjadi 8.636,70 pada pukul 8:15 WIB.
Indeks Kospi Korea Selatan dibuka turun 0,33%, dan berlanjut menguat 0,28% menjadi 6.991,15.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang bergerak melorot 0,83% ke 68.380,96, setelah dibuka merosot 1,06%
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 24.422, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 24.613,27.
Bursa saham China daratan hari ini masih ditutup karena libur.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini diperkirakan masih berada dalam tekanan jual, setelah mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan melorot 1,02% ke 6.009. Harga ETF saham Indonesia, iShares MSCI Indonesia ETF ( EIDO ), di New York Stocks Exchange merosot 1,25% ke USD11,61.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG masih akan menghadapi tekanan lokal dan global. Secara teknikal IHSG telah menembus level support Fibonacci 6.019 dan ditutup mendekati level psikologis 6.000. Indikator MACD masih menunjukkan momentum bearish , sehingga indeks berpotensi berkonsolidasi di rentang 6.000-6.200. Level support di kisaran 5.850, resistance di kisaran 6.200.
Analis Indo Premier berpendapat, sentimen risk-off menguat pada perdagangan kemarin, akibat kenaikan inflasi dan perombakan kabinet. Inflasi tahunan September meningkat menjadi 3,28%, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 2,5% 1%. Ekspektasi pasar mulai bergeser ke arah kenaikan suku bunga BI, diperkuat rupiah yang mendekati Rp18.000 dan kenaikan suku bunga global.
Di sisi lain, PMI manufaktur naik ke 52,4 dari 49,8, level tertinggi dalam tujuh bulan. Surplus perdagangan Agustus sebesar USD3,55 miliar juga menjadi katalis positif, tetapi terhalang tekanan inflasi dan ketidakpastian global.
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi ditutup menguat tipis. Tekanan mereda seiring berbaliknya aksi jual US Treasury. Investor kembali membeli obligasi. Pernyataan Vice Chair The Fed Philip Jefferson mengisyaratkan The Fed dapat lebih sabar menaikkan suku bunga. Klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 197.000, di bawah perkiraan 200.000. Indeks PMI September turun tipis menjadi 54,5 dari 54,6 di Agustus.
Harga Brent melonjak lebih dari USD4 per barel. Saham sektor energi melonjak1,9%. Sektor teknologi naik 0,8% didukung kinerja Accenture dan Micron (+3%). Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Fed 25 bps pada Oktober hanya 28,2%, turun tajam dari 68,6% pada pekan lalu.
- Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,04% di 50.926,56.
- S&P 500 menguat 0,19% mmenjadi 7.666,45.
- Nasdaq Composite sedikit bertambah 0,04% di 26.871,60.
Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir turun tajam, akibat aksi jual saham bank di tengah kekhawatiran kondisi keuangan Inggris menjelang rilis anggaran pemerintah. Yield obligasi Prancis 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002. Yield Jerman bertenor 10 tahun turun 5,9 bps. Inflasi Jerman yang sedikit di atas ekspektasi memperkuat kekhawatiran suku bunga tinggi, meski pengangguran zona euro stabil di 6,4% pada Agustus.
Indeks STOXX 600 merosot 1,3% ke 626,65. Hampir seluruh subsektor berakhir di zona merah.Sektor perbankan terperosok 3,7%. Saham HSBC , Barclays, dan Lloyds ambles antara 4,1% hingga 4,5%. Indeks teknologi Eropa secara keseluruhan menguat 0,5%. Saham Capgemini melonjak 7,3% setelah prospek Accenture positif. Saham Zealand Pharma anjlok 6,1% akibat hasil uji obat obesitas.
- FTSE 100 Inggris anjlok 1,68% ke posisi 10.428,27
- DAX Jerman merosot 1,03% ke 24.939,35
- CAC 40 terkoreksi 1,62% ke level 7.835,31
Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York dini hari tadi ditutup menguat ke level tertinggi 17 bulan terhadap euro. Yield obligasi AS dan Eropa melonjak, di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak. Data PCE AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober, tetapi pasar masih mengantisipasi pengetatan tambahan.
Lonjakan inflasi di zona euro menegaskan kembali ancaman kenaikan harga energi terhadap perekonomian global. Euro turun ke level terendah sejak Mei 2025, anjlok hampir 2,5% sepanjang September. Besaran utang Prancis turut menekan euro. Poundsterling dan yen juga melemah. Indeks dolar AS (DXY) naik 0,51% ke 102,099 mencatat penguatan selama enam kuartal berturut-turut, terpanjang sejak 2022.
Kurs spot dolar
Currency | Value | Change | % Change | Time (ET) |
Euro (EUR-USD) | 1.1244 | 0.00 | 0.00% | 7:22 PM |
Yen (USD-JPY) | 157.96 | 0.13 | 0.08% | 7:21 PM |
Poundsterling (GBP-USD) | 1.3197 | 0.00 | 0.00% | 7:21 PM |
Rupiah (USD-IDR) | 17,966 | 72.00 | 0.40% | 3:59 AM |
Yuan (USD-CNY) | 6.7064 | 0.00 | 0.02% | 09/30/2026 |
Sumber : Bloomberg.com, 1/10/2026 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea dini hari tadi ditutup melonjak lebih dari USD4 per barel. AS dikabarkan menambah pasukan dan kapal induk ke Timur Tengah, meningkatkan risiko gangguan pasokan. Kekhawatiran pasokan semakin besar setelah China menghentikan ekspor produk minyak, di tengah kelangkaan diesel global. Pasokan diesel juga tertekan larangan ekspor Rusia dan kerusakan infrastruktur kilang di kawasan Teluk serta Rusia.
Upaya diplomasi Iran meredup, sementara risiko konflik di kawasan dan gangguan Selat Hormuz menjaga volatilitas pasar minyak tetap tinggi. Analis menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent 2026 menjadi USD89,05 per barel.Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk pulih menjadi 23,3 juta bph, sejalan dengan rata-rata ekspor 2025, dalam sepekan terakhir.
- Harga Brent berjangka melompat 4,37% ke USD102,31 per barel.
- Harga WTI berjangka melonjak 2,71% ke USD92,87 per barel.
Harga emas di bursa berjangka AS dini hari tadi berakhir menguat tipis. Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Probabilitas kenaikan suku bunga Fed turun menjadi 31% dari 45% sebelum rilis data inflasi. Namun kenaikan emas terbatas oleh lonjakan yield US Treasury 10 tahun dan penguatan dolar AS.
Investor kini menanti laporan nonfarm payrolls AS September sebagai petunjuk arah kebijakan moneter Fed berikutnya. HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas 2026 dan 2027 menjadi masing-masing USD4.490 dan USD4.825 per ounce. Harga logam mulia lainnya; perak spot menguat 0,2% di USD60,51 per ounce, platinum bertambah 0,1% di USD1.707,56, sedangkan paladium anjlok 2,2% ke USD1.178,57.
- Harga emas di pasar spot menguat 0,2% di USD4.165,29 per ounce.
- Harga emas berjangka AS naik 0,4% menjadi USD4.202,30 per ounce.
(AFP, CNBC , Reuters)
powered by: IPOTNEWS.COM