Fitch Beri Peringkat ‘AA+(idn)’ untuk Obligasi dan Sukuk Tower Bersama (TBIG) Rp2,37 Triliun
Wednesday, September 30, 2026       15:14 WIB
  • Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat 'AA+(idn)' untuk penerbitan obligasi dan sukuk PT Tower Bersama Infrastructure Tbk () senilai Rp2,37 triliun, setara dengan peringkat nasional jangka panjang perusahaan.
  • Leverage diproyeksikan stabil di sekitar 5,0 kali pada 2026-2027, dengan pendapatan terkontrak mencapai Rp36,4 triliun per akhir Juni 2026 dan rata-rata sisa masa kontrak 5,5 tahun.
  • Dana penerbitan akan digunakan untuk refinancing utang, sementara Fitch menilai likuiditas didukung kas Rp700 miliar, fasilitas committed US$325 juta dan pinjaman bank yang belum ditarik Rp9,8 triliun.

Ipotnews -- Fitch Ratings Indonesia memublikasikan peringkat nasional jangka panjang 'AA+(idn)' untuk penerbitan obligasi dan sukuk PT Tower Bersama Infrastructure Tbk () senilai Rp2,37 triliun.
Peringkat tersebut berada pada level yang sama dengan peringkat nasional jangka panjang karena instrumen yang diterbitkan merupakan kewajiban senior tanpa jaminan perusahaan. Penerbitan ini merupakan tahap kelima dari program obligasi senilai Rp20 triliun dan program sukuk senilai Rp8 triliun.
Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk membiayai kembali utang yang telah ada. Menurut Fitch, peringkat 'AA' menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan emiten atau obligasi lain dengan peringkat di negara yang sama.
Fitch memperkirakan EBITDA net leverage akan berada di sekitar 5,0 kali pada 2026-2027, dibandingkan 4,9 kali pada 2025. Integrasi jaringan pascamerger PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk diperkirakan meningkatkan tingkat tidak diperpanjangnya kontrak sewa menara dan menekan pertumbuhan sewa bersih pada 2026.
Namun, Fitch menilai memiliki ruang yang memadai untuk menyerap dampak tersebut. Sebagian tekanan diperkirakan dapat diimbangi relokasi dan pesanan baru seiring XLSMART memperluas jaringannya setelah merger.
juga dinilai memiliki pengendalian leverage yang kuat berkat visibilitas arus kas yang tinggi dan fleksibilitas dividen. Fitch memperkirakan pembayaran dividen tahunan mencapai Rp1,2 triliun-Rp1,3 triliun pada 2026-2027, meningkat dibandingkan Rp529 miliar pada 2025.
Dari sisi arus kas, Fitch mencatat memiliki perjanjian sewa jangka panjang yang umumnya berdurasi 10 tahun. Total pendapatan terkontrak perusahaan mencapai sekitar Rp36,4 triliun pada akhir Juni 2026, naik dari Rp35,7 triliun pada akhir 2025, dengan rata-rata sisa masa kontrak sekitar 5,5 tahun.
Posisi pasar juga menjadi faktor pendukung peringkat. merupakan operator menara terbesar ketiga di Indonesia dengan sekitar 20% dari total menara. Industri menara telekomunikasi nasional telah terkonsolidasi, dengan tiga perusahaan terbesar menguasai sekitar 90% total menara.
Fitch memperkirakan prospek industri menara akan membaik seiring stabilnya industri telekomunikasi Indonesia setelah merger XLSMART. Investasi operator telekomunikasi diperkirakan meningkat untuk memperbaiki kualitas jaringan, termasuk melalui pengembangan 5G dan fixed-wireless access yang diperkirakan mulai meningkat pada 2027.
Dalam skenario Fitch, pendapatan diperkirakan tumbuh pada kisaran satu digit rendah pada 2026-2027, sementara margin EBITDA diproyeksikan stabil sekitar 85%. Belanja modal, termasuk pembayaran di muka untuk sewa lahan, diperkirakan sekitar Rp3 triliun per tahun.
Dari sisi likuiditas, memiliki kas Rp700 miliar pada akhir Juni 2026, fasilitas committed yang belum ditarik sebesar US$325 juta atau sekitar Rp5,8 triliun, serta pinjaman bank rupiah yang belum ditarik sebesar Rp9,8 triliun. Jumlah tersebut dibandingkan dengan utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan sebesar Rp17,8 triliun.
Fitch menilai likuiditas dan kemampuan refinancing didukung akses yang kuat ke perbankan domestik maupun asing serta pasar obligasi dalam negeri. Sejak 2022, telah menghimpun sekitar Rp26 triliun melalui penerbitan obligasi dan sukuk.
Untuk peringkat sukuk, Fitch menetapkannya pada level yang sama dengan peringkat nasional jangka panjang . Sukuk memiliki kedudukan pari passu dengan kreditor lain perusahaan dan dilengkapi ketentuan seperti negative pledge, cross-default, kewajiban pelaporan keuangan, serta berbagai covenant yang sebanding dengan obligasi.
Fitch menyebut peringkat dapat tertekan jika pengembalian kepada pemegang saham lebih agresif atau tingkat kontrak sewa yang tidak diperpanjang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga EBITDA net leverage berada di atas 5,3 kali secara berkelanjutan.
Sebaliknya, peringkat berpotensi meningkat apabila EBITDA net leverage dapat dipertahankan di bawah 4,3 kali secara berkelanjutan. Perubahan peringkat akan diikuti perubahan peringkat atas obligasi dan sukuk yang diterbitkan.(Fitchratings.com)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM